Ethereum anjlok, Bitmine rugi US$9 miliar

Kamis, 04 Juni 2026

image

JAKARTA - Penurunan harga ethereum kembali menekan perusahaan pemegang aset kripto korporasi. Bitmine Immersion Technologies, pemilik Ethereum terbesar di kalangan perusahaan publik.

Perusahaan ini menghadapi kerugian belum terealisasi hampir US$9 miliar setelah harga ETH turun di bawah US$1.800.

Seperti dikutip Coindesk, saham bitmine turun 5,9% pada perdagangan Rabu dan diperdagangkan di bawah US$17 per saham.

Sejak awal Mei, harga saham perusahaan telah merosot sekitar 28% dan kini berada di level terendah sejak perusahaan mengubah strategi bisnisnya menjadi perusahaan treasury ethereum pada 2025.

Tekanan terhadap saham terjadi seiring pelemahan ethereum yang kembali menguji level terendah Februari.

Sejak awal Mei, aset kripto terbesar kedua di dunia itu telah kehilangan lebih dari 20% nilainya.

Penurunan tersebut terjadi hanya beberapa bulan setelah Chairman Bitmine sekaligus pendiri Fundstrat, Tom Lee, menyatakan bahwa fase "musim dingin kripto mini" telah berakhir dan pasar memasuki periode " musim semi kripto".

Dalam sekitar satu tahun terakhir, Bitmine mengakumulasi lebih dari 5,4 juta ETH atau setara sekitar 4,5% dari total pasokan ethereum yang beredar.

Pada harga saat ini, kepemilikan tersebut bernilai sekitar US$10 miliar. Namun berdasarkan data DropsTab, portofolio itu kini mencatat kerugian belum terealisasi sekitar US$8,9 miliar.

Model Treasury Kripto Tertekan

Kondisi Bitmine mencerminkan tekanan yang mulai dirasakan perusahaan-perusahaan treasury aset digital yang mengadopsi strategi serupa dengan Strategy milik Michael Saylor, yakni menghimpun dana dari pasar modal untuk membeli aset kripto dalam jumlah besar.

Strategi tersebut menjadi lebih sulit dipertahankan ketika harga aset kripto melemah dan valuasi saham perusahaan turun di bawah nilai aset yang mereka miliki.

Strategy sendiri baru-baru ini mengungkapkan penjualan Bitcoin pertamanya sejak 2022, memicu spekulasi mengenai sumber pendanaan perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang terkait dengan penerbitan saham preferen.

Meski demikian, posisi Bitmine dinilai berbeda dibanding sejumlah perusahaan sejenis.

Sebagian besar pembelian Ethereum perusahaan didanai melalui penerbitan saham, bukan utang, sehingga tidak menghadapi tekanan pembayaran bunga maupun risiko leverage yang tinggi.

Selain itu, perusahaan masih memperoleh pendapatan dari aktivitas staking ethereum dan layanan staking miliknya, MAVAN.

Bitmine menyatakan telah menempatkan lebih dari 4,7 juta ETH atau sekitar 87% dari total kepemilikannya dalam program staking. Perusahaan memperkirakan pendapatan staking tahunan mencapai sekitar US$276 juta.

Tom Lee Tetap Optimistis

Meski Ethereum mengalami tekanan harga, Tom Lee tidak mengubah pandangan jangka panjangnya terhadap aset tersebut.

Dalam konferensi Proof of Talk di Paris pekan ini, Lee mengatakan Ethereum berpotensi mencapai US$250.000 per koin di masa depan seiring berkembangnya tokenisasi aset, transaksi berbasis kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya penggunaan staking oleh korporasi.

Namun untuk saat ini, pasar lebih fokus pada pelemahan harga Ethereum yang kembali mendekati level terendah Februari. Kondisi tersebut memperbesar tekanan terhadap nilai portofolio Bitmine dan menguji optimisme jangka panjang perusahaan terhadap aset kripto tersebut.(DH)