Perang ubah peta ekonomi Teluk, Arab Saudi jadi tujuan investasi?

Kamis, 04 Juni 2026

image

JAKARTA - Perang Iran mulai mengubah peta ekonomi kawasan Teluk. Saat sektor perhotelan, restoran, dan aktivitas bisnis di sejumlah negara Teluk tertekan oleh konflik, Arab Saudi justru muncul sebagai tujuan baru bagi investor dan pelaku usaha yang mencari stabilitas.

Seperti dikutip Reuters, pengusaha teknologi pangan asal Dubai, Sara Amini, mengaku masih melihat aktivitas ekonomi yang kuat saat berkunjung ke Riyadh. Restoran tetap ramai dan perusahaan-perusahaan masih membicarakan ekspansi bisnis di tengah ketidakpastian kawasan.

"Saat saya datang ke Arab Saudi, saya merasa semuanya berjalan seperti biasa," kata Amini.

Ketahanan ekonomi Saudi didukung oleh besarnya pasar domestik, kuatnya konsumsi masyarakat, serta keberhasilan kerajaan mengalihkan sebagian jalur logistik dan ekspor minyak ke pelabuhan Laut Merah untuk menghindari gangguan di Selat Hormuz.

Meski demikian, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Arab Saudi tahun ini akan melambat menjadi sekitar 2%, lebih rendah dibanding proyeksi 3,1% yang dirilis pada April.

"Di luar dampak jangka pendek, konflik yang berkepanjangan dapat mengikis kepercayaan investor dan melemahkan prospek pertumbuhan dan diversifikasi dalam jangka menengah," kata IMF.

Data terbaru menunjukkan sektor swasta nonmigas Arab Saudi tetap tumbuh pada Mei, didorong peningkatan permintaan domestik dan kembali berjalannya sejumlah proyek yang sebelumnya tertunda.

"Peningkatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan produksi dan pesanan baru, yang didukung oleh membaiknya permintaan domestik dan dimulainya kembali proyek-proyek yang sebelumnya tertunda," kata Kepala Ekonom Riyad Bank, Naif Al-Ghaith.

Investor Alihkan Dana ke Arab Saudi?

Di tengah meningkatnya risiko geopolitik di kawasan, sejumlah pengelola investasi melihat arus modal mulai bergerak menuju Arab Saudi.

Walid Hayeck, Managing Director FundRock ManCo Saudi, mengatakan permintaan pembentukan dana investasi baru di kerajaan meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

"Banyak orang memulangkan modal dari negara-negara GCC lainnya, kemungkinan besar didorong oleh keinginan untuk mencari tempat yang lebih aman," ujarnya.

Menurut pelaku pasar, Arab Saudi kini dipandang sebagai salah satu tujuan investasi paling aman di kawasan Teluk karena memiliki pasar domestik yang besar dan kemampuan fiskal yang relatif kuat.

Perang juga terjadi saat Arab Saudi tengah mengubah arah program Vision 2030 yang selama ini menjadi tulang punggung transformasi ekonomi kerajaan.

Jika sebelumnya proyek-proyek besar seperti kota futuristik The Line dan resor ski Trojena menjadi simbol ambisi Saudi, pemerintah kini lebih fokus pada sektor yang dinilai mampu menghasilkan pertumbuhan dan pendapatan lebih cepat.

Investasi diarahkan ke sektor pariwisata, industri, kecerdasan buatan (AI), dan logistik melalui dukungan Public Investment Fund (PIF).

"Jika menyangkut prioritas proyeknya, perang ini terjadi pada momen penting ketika PIF sudah mempertimbangkan untuk menyesuaikan kembali strategi investasinya," kata analis GlobalSource Partners, Justin Alexander.

Perubahan strategi tersebut mulai memberikan keuntungan bagi perusahaan lokal. Platform logistik Sirdab, misalnya, mencatat lonjakan permintaan sejak jalur perdagangan kawasan dialihkan ke pelabuhan Laut Merah.

"Ada rencana untuk Visi 2030 untuk memberikan suntikan dana ke sektor logistik, dan apa yang terjadi saat ini pada dasarnya membantu atau mempercepat pencapaian target-target tersebut," kata pendiri Sirdab, Abdulrahman Alnamlah.

Ia mengaku menerima permintaan baru hampir setiap hari dari perusahaan yang ingin memindahkan barang melalui Jeddah dan pelabuhan Laut Merah lainnya.

Harga Minyak Jadi Penopang

Selain logistik, sektor pariwisata juga menunjukkan daya tahan yang kuat. Tingkat okupansi hotel nasional mencapai 66,3% pada kuartal pertama 2026, naik dibanding periode yang sama tahun lalu.

Jumlah perjalanan wisata domestik dan internasional mencapai 37,2 juta pada tiga bulan pertama tahun ini. Kenaikan wisatawan lokal berhasil menutup penurunan kunjungan wisatawan mancanegara.

Di sektor energi, Arab Saudi masih menghadapi gangguan akibat serangan drone dan rudal Iran terhadap infrastruktur energi serta hambatan ekspor yang muncul setelah penutupan efektif Selat Hormuz.

Namun pengalihan ekspor minyak ke pelabuhan Laut Merah membantu menjaga arus pengiriman energi.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menyebut jalur Laut Merah sebagai "jalur kehidupan yang sangat penting" bagi ekspor minyak Saudi selama konflik berlangsung.

Analis ADCB, Monica Malik, menilai kenaikan harga minyak dunia saat ini mampu menutup dampak penurunan volume ekspor.

"Sudah jelas bahwa harga minyak yang lebih tinggi akan lebih dari cukup untuk mengimbangi penurunan volume minyak Arab Saudi akibat blokade Iran terhadap Selat Hormuz," katanya.(DH)