Gangguan Hormuz, stok minyak AS susut 7 pekan beruntun

Kamis, 04 Juni 2026

image

JAKARTA - Persediaan minyak mentah komersial Amerika Serikat kembali menyusut pada pekan terakhir Mei, menandai penurunan selama tujuh minggu berturut-turut di tengah tingginya aktivitas kilang dan terganggunya pasokan global akibat krisis di Selat Hormuz.

Seperti dikutip Inspenet, data American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS turun 6,8 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei 2026.

Dengan penurunan terbaru tersebut, total pengurangan persediaan selama tujuh pekan terakhir telah melampaui 40 juta barel, setara lebih dari dua hari konsumsi minyak nasional Amerika Serikat.

Tren tersebut mencerminkan kombinasi meningkatnya permintaan dari sektor pengolahan minyak domestik dan terbatasnya pasokan impor akibat gangguan logistik di kawasan Teluk Persia.

Pada periode yang sama, stok bensin justru meningkat 3,5 juta barel, sementara persediaan distilat, termasuk solar dan bahan bakar pemanas, turun sekitar 214.000 barel.

Kenaikan stok bensin menunjukkan kilang masih beroperasi pada tingkat tinggi dan terus mengolah minyak mentah dalam jumlah besar. Namun, peningkatan produksi tersebut belum sepenuhnya terserap oleh permintaan konsumen.

Penurunan persediaan minyak mentah memperkuat sinyal bahwa pasar energi global masih menghadapi kondisi pasokan yang ketat. Harga minyak Brent saat ini diperdagangkan di sekitar US$97,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$95,75 per barel.

Level tersebut mencerminkan premi risiko geopolitik yang masih tinggi akibat ketidakpastian terkait jalur pelayaran energi di Selat Hormuz. Berkurangnya stok minyak mentah AS menambah dukungan fundamental bagi harga minyak dan membuka peluang kenaikan menuju US$100 per barel apabila ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran tidak mereda dalam waktu dekat.

Lembaga riset Energy Intelligence memperingatkan bahwa pasar energi dapat menghadapi tekanan yang lebih besar apabila Selat Hormuz belum kembali dibuka untuk lalu lintas pelayaran sebelum awal Agustus.

"Jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali untuk lalu lintas maritim sebelum awal Agustus, harga gas dan LNG bisa meroket," tulis Energy Intelligence dalam laporannya pada 2 Juni.

Pelaku pasar kini menantikan data resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang akan dirilis pada Rabu waktu setempat. Laporan mingguan API sering menjadi indikator awal arah pergerakan persediaan minyak AS, meski angka final EIA kerap menunjukkan perbedaan.

Di sisi lain, EIA dalam proyeksi jangka pendeknya telah menaikkan perkiraan rata-rata harga minyak Brent tahun ini menjadi US$96 per barel, lebih dari 20% di atas estimasi sebelum konflik Hormuz pecah.

Sementara itu, Goldman Sachs memperkirakan gangguan produksi minyak di Timur Tengah mencapai sekitar 14,5 juta barel per hari, yang dinilai menjadi salah satu faktor utama di balik penyusutan persediaan minyak global.

Penurunan stok selama tujuh pekan berturut-turut memperlihatkan bahwa pada tingkat harga saat ini, permintaan minyak masih melampaui pasokan yang tersedia. Kondisi tersebut membuat perkembangan situasi di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.(DH)