Kilang AS gugat EPA, aturan biofuel ancam harga BBM naik

Kamis, 04 Juni 2026

image

JAKARTA - Kelompok industri kilang minyak Amerika Serikat, American Fuel and Petrochemical Manufacturers (AFPM), menggugat Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) atas aturan terbaru pencampuran biofuel yang dinilai akan meningkatkan biaya operasional dan mendorong kenaikan harga bahan bakar.

Seperti dikutip Reuters, gugatan yang diajukan ke Pengadilan Banding Distrik Columbia (D.C. Circuit Court) pada Jumat lalu meminta pengadilan meninjau kembali mandat final Renewable Fuel Standard (RFS) yang ditetapkan EPA pada akhir Maret.

Melalui aturan tersebut, kilang minyak diwajibkan mencampurkan miliaran galon etanol dan biofuel lainnya ke dalam pasokan bahan bakar nasional atau membeli kredit kepatuhan yang dikenal sebagai Renewable Identification Numbers (RINs).

AFPM menilai aturan tersebut menjadi beban terbesar yang pernah diterapkan dalam program RFS. “Biaya untuk mematuhi RFS baru-baru ini mencapai titik tertinggi sepanjang masa,” kata Chief Executive Officer AFPM Chet Thompson dalam pernyataan yang menyertai gugatan.

Ia menyebut mandat terbaru itu sebagai implementasi RFS terbesar dan termahal sepanjang sejarah program tersebut, sekaligus regulasi paling mahal yang diterbitkan pada masa jabatan kedua Presiden Donald Trump. EPA menolak memberikan komentar terkait gugatan tersebut.

Menurut AFPM, biaya kepatuhan terhadap aturan baru berpotensi melampaui US$106 miliar dalam dua tahun atau setara tambahan biaya 26 hingga 35 sen per galon untuk setiap galon bensin dan solar yang dipasok ke pasar AS.

Kelompok industri itu juga menilai target yang ditetapkan EPA melampaui kapasitas produksi biofuel domestik saat ini. Kondisi tersebut berisiko memaksa kilang mengimpor bahan bakar dan bahan baku tambahan yang pada akhirnya meningkatkan biaya dan dibebankan kepada konsumen.

Sebagai contoh, EPA menetapkan kewajiban penggunaan biodiesel dan renewable diesel sekitar 60% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. AFPM juga memperingatkan bahwa upaya kilang memenuhi target baru telah memicu lonjakan permintaan kredit RIN dan mempercepat penyusutan cadangan kredit yang tersedia di pasar.

"Tanpa bank RIN yang sehat secara finansial, satu-satunya cara untuk mematuhi RFS adalah dengan mengurangi jumlah bahan bakar transportasi yang dipasok ke pasar AS," kata AFPM. Kekhawatiran tersebut muncul di tengah lonjakan harga kredit etanol dan biodiesel RIN untuk 2026 yang pekan lalu mencapai rekor tertinggi.

Data April menunjukkan produksi kredit biodiesel hanya mencapai sekitar 690 juta unit, jauh di bawah kebutuhan bulanan sekitar 915 juta kredit untuk memenuhi target yang ditetapkan regulator.(DH)