El Nino picu kekhawatiran pasokan pangan di Asia

Jumat, 05 Juni 2026

image

SINGAPURA - Cuaca kering mulai berdampak pada musim tanam di berbagai negara Asia dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan pangan di kawasan dengan populasi terbesar di dunia. Para pelaku pasar memperingatkan bahwa fenomena El Nino yang diperkirakan akan menguat dalam beberapa bulan ke depan berpotensi memperburuk kondisi tersebut.

Dikutip dari Reuters, cuaca panas dan curah hujan yang berada di bawah normal telah menekan produktivitas pertanian mulai dari wilayah penghasil gandum di India dan Australia, sawah di Thailand, hingga perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Kondisi tersebut mendorong sebagian petani mengurangi atau menunda kegiatan tanam.

Kekeringan yang dipicu El Nino memberikan tekanan tambahan bagi sektor pertanian yang sebelumnya telah menghadapi kenaikan biaya produksi akibat keterbatasan pasokan pupuk dan solar sebagai imbas perang Iran.

Harga gandum global telah naik sekitar 20% sejak awal 2026. Kenaikan tersebut didorong oleh kekhawatiran terhadap kekeringan di wilayah utama penghasil gandum di Amerika Serikat.

Sementara itu, harga beras di pusat-pusat ekspor utama Asia Tenggara meningkat sekitar 15% dalam sebulan terakhir seiring dengan meningkatnya biaya produksi dan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan.

Salah satu fenomena El Nino terkuat dalam sejarah diperkirakan akan terjadi pada paruh kedua 2026. Kondisi tersebut berpotensi membawa cuaca panas dan kering ke wilayah Asia. Sementara itu, kawasan Amerika diperkirakan akan mengalami curah hujan yang lebih tinggi seiring berlangsungnya perubahan iklim global.

Meteorolog SkyFi yang berbasis di Amerika Serikat, Chris Hyde, mengatakan dampak El Nino biasanya pertama kali dirasakan di Asia Tenggara, India, dan Australia sebelum meluas ke wilayah Amerika Utara dan Amerika Selatan. Menurutnya, berdasarkan citra satelit beresolusi tinggi, tanda-tanda awal kekeringan sudah mulai terlihat di sejumlah wilayah Asia.

Musim Tanam Terganggu

Di India, badan meteorologi setempat kembali memangkas proyeksi musim hujan atau monsun yang berlangsung selama empat bulan dan menyumbang sekitar 70% curah hujan tahunan negara tersebut.

Seorang pelaku perdagangan komoditas di New Delhi mengatakan suhu yang masih jauh di atas normal membuat kondisi saat ini kurang mendukung bagi penanaman tanaman musim panas secara tepat waktu.

Ia menambahkan bahwa keterlambatan datangnya monsun kemungkinan akan menunda proses tanam. Namun, kekhawatiran yang lebih besar adalah risiko curah hujan yang berada di bawah normal serta periode kekeringan berkepanjangan setelah musim hujan dimulai.

India merupakan produsen utama beras, kedelai, kacang-kacangan, tebu, dan jagung selama musim tanam musim panas.

Di Asia Tenggara, kondisi kering mulai menekan produktivitas padi dan kelapa sawit di sejumlah wilayah.

Seorang petani berusia 47 tahun di Provinsi Chainat, Thailand, Nerawat Oramah, mengaku khawatir terhadap risiko kekeringan yang dapat mengurangi hasil panen. Menurutnya, jika pasokan air tidak mencukupi, petani kemungkinan hanya dapat melakukan satu kali panen.

Thailand dan Filipina biasanya memulai musim tanam padi utama pada Juni hingga Juli. Sementara itu, Vietnam dan Indonesia saat ini sedang memasuki musim tanam kedua.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sejumlah wilayah di Pulau Jawa serta sebagian Sumatra Utara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi tidak mengalami hujan selama lebih dari 10 hari. Curah hujan pada Juni diperkirakan berada pada kategori rendah hingga menengah.

Risiko Lonjakan Harga Pangan

Harga beras terus mengalami kenaikan meskipun India, yang menyumbang sekitar 40% ekspor beras dunia, masih memiliki stok yang melimpah setelah beberapa tahun mencatat hasil panen mendekati rekor tertinggi.

Seorang pedagang komoditas di Singapura mengatakan kenaikan harga beras yang signifikan terjadi meski belum ada kekurangan pasokan yang besar. Harga beras Thailand tercatat meningkat sekitar 15% dalam satu bulan terakhir.

Menurutnya, India memiliki cadangan beras yang jauh melebihi kebutuhan domestiknya. Namun, pasar mulai khawatir pemerintah India dapat menganggap stok tersebut sebagai aset strategis dan menerapkan pembatasan ekspor apabila musim monsun tidak berjalan sesuai harapan.

Meski demikian, KKP Research, unit riset Kiatnakin Phatra Bank Thailand, menilai sebagian dampak kekeringan masih dapat dikurangi oleh tingkat cadangan air waduk yang relatif tinggi.

Namun, lembaga tersebut mengingatkan bahwa risiko yang lebih besar justru berasal dari pasokan pupuk. Menurut estimasi mereka, apabila terjadi kelangkaan pupuk, produksi beras dapat turun hingga 15%-20% dalam skenario terburuk.

Di Australia, hujan yang turun dalam beberapa waktu terakhir membantu petani memulai penanaman gandum yang sempat tertunda. Meski demikian, para petani tetap mewaspadai dampak El Nino yang berpotensi menekan hasil panen pada bulan-bulan mendatang.

Sementara itu, para ahli menilai dampak El Nino terhadap China dan kawasan Laut Hitam cenderung netral. Sebaliknya, fenomena tersebut diperkirakan membawa curah hujan yang lebih tinggi ke kawasan Amerika.(ARF)