Saham Indonesia mulai tersingkir dari indeks global, mengapa?

Kamis, 04 Juni 2026

image

JAKARTA - Sejumlah perusahaan publik terbesar di Indonesia semakin banyak yang tersingkir dari indeks saham global utama.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa pasar modal Indonesia kian kurang menarik bagi investor global, meskipun Indonesia memiliki sejumlah perusahaan dengan valuasi terbesar di Asia Tenggara.

Dikutip dari The Business Times, Partner Wealth Management SGMC Capital, Mohit Mirpuri, menilai penghapusan sejumlah emiten Indonesia dari indeks global lebih mencerminkan persoalan daya investasi dibandingkan kurangnya pertumbuhan korporasi.

Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada pertumbuhan ekonomi atau bisnis Indonesia, melainkan apakah pertumbuhan tersebut didukung oleh tingkat free float, likuiditas, transparansi, dan aksesibilitas yang memadai bagi investor institusi.

Pada Mei lalu, MSCI menghapus enam perusahaan Indonesia dari MSCI Global Standard Index, termasuk perusahaan energi besar seperti Barito Renewables Energy dan Dian Swastatika Sentosa.

Langkah tersebut dilakukan setelah muncul kekhawatiran terkait kelayakan investasi sejumlah saham berkapitalisasi besar di Indonesia.

FTSE Russell juga mengambil langkah serupa dalam tinjauan indeks terbarunya pada Juni 2026.

Penyedia indeks global tersebut mengeluarkan sejumlah perusahaan Indonesia dari indeks acuannya setelah dinilai tidak lagi memenuhi kriteria kelayakan. Salah satu perusahaan yang terdampak adalah raksasa teknologi nasional, GoTo.

Perubahan tersebut akan mulai berlaku pada 22 Juni 2026.

Perkembangan tersebut terjadi ketika pasar keuangan Indonesia tengah menghadapi berbagai tekanan.

Selain sorotan MSCI terhadap daya investasi pasar saham Indonesia, investor juga mencermati potensi penurunan peringkat kredit negara serta keberlanjutan fiskal sejumlah program prioritas pemerintah yang membutuhkan anggaran besar, termasuk program makan bergizi gratis.

Ketidakpastian tersebut memicu aksi jual di berbagai aset Indonesia sepanjang tahun ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat telah turun lebih dari 30%, sementara nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (4/6). Sepanjang tahun berjalan, rupiah telah terdepresiasi lebih dari 4,5%.

Tekanan pasar juga membuat Indonesia kehilangan status sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara.

Pada akhir Mei, posisi tersebut diambil alih Singapura setelah penurunan tajam harga saham di Indonesia menggerus kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia.

Eksklusi terbaru dari indeks global menjadi perhatian besar mengingat Indonesia selama puluhan tahun berupaya meningkatkan representasinya dalam berbagai indeks internasional.

Setelah sempat dipandang sebagai pasar berkembang berisiko tinggi pascakrisis finansial Asia, Indonesia secara bertahap berhasil meningkatkan bobotnya dalam indeks MSCI dan FTSE berkat pertumbuhan ekonomi yang kuat, boom komoditas, serta meningkatnya konsumsi domestik.

Masalah struktural

Penghapusan sejumlah emiten dari indeks global terjadi meskipun banyak perusahaan yang terdampak memiliki valuasi miliaran dolar AS dan menjadi pendorong utama reli pasar saham Indonesia pascapandemi.

Didorong oleh gelombang penawaran umum perdana saham (IPO) dan meningkatnya jumlah investor ritel, pasar IPO Indonesia mencatat rekor pada 2023 dengan 79 pencatatan saham baru. Capaian tersebut menjadikan Bursa Efek Indonesia sebagai bursa keenam paling aktif di dunia berdasarkan jumlah IPO.

Momentum tersebut membantu mendorong kapitalisasi pasar perusahaan tercatat di Indonesia melampaui US$900 miliar pada Januari 2026 dan menjadikan Indonesia sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara saat itu.

Namun, di balik valuasi yang besar, sejumlah perusahaan terbesar di Indonesia masih memiliki struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi.

Perusahaan yang dikendalikan sejumlah konglomerat besar Indonesia, termasuk keluarga Widjaja yang mengendalikan Dian Swastatika Sentosa serta Prajogo Pangestu yang mengendalikan Barito Renewables Energy, memiliki porsi saham publik yang relatif kecil.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terkait likuiditas saham dan aksesibilitas bagi investor institusi.

Kekhawatiran tersebut memuncak pada Januari ketika MSCI menyoroti struktur kepemilikan yang terkonsentrasi dan rendahnya free float pada sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Peringatan tersebut memicu aksi jual di pasar dan mendorong Bursa Efek Indonesia menerapkan pembatasan perdagangan selama dua hari berturut-turut.

Sebelumnya, ketentuan free float minimum di Indonesia hanya sebesar 7,5%. Sebagai respons atas kekhawatiran MSCI, regulator kemudian memutuskan untuk menaikkannya secara bertahap menjadi 20% guna menjaga posisi Indonesia sebagai pasar berkembang dalam indeks global.

Pelaku pasar menilai dampak penghapusan dari indeks global dapat langsung memengaruhi arus modal dan biaya pendanaan perusahaan.

Chief Investment Officer Four Capital, Ricky Ho, mengatakan dampak paling langsung adalah munculnya aksi jual paksa oleh dana pasif yang mengikuti komposisi indeks global.

Namun, menurutnya, kekhawatiran yang lebih besar adalah sinyal yang dikirimkan kepada investor aktif.

Ia menilai jika bobot Indonesia terus menyusut akibat persoalan daya investasi, investor aktif dapat mulai mempertanyakan apakah pasar Indonesia masih layak menjadi bagian penting dari alokasi investasi mereka.

Menurut Ricky, penyedia indeks global sering kali menjadi filter awal bagi manajer investasi internasional ketika menilai pasar negara berkembang. Ketika representasi Indonesia di indeks global terus berkurang, dana kelolaan aktif juga berpotensi mengurangi eksposurnya terhadap Indonesia.

Kondisi tersebut dapat menciptakan lingkaran negatif. Partisipasi investor yang lebih rendah akan melemahkan likuiditas pasar. Likuiditas yang lebih rendah meningkatkan biaya modal, sementara biaya modal yang lebih tinggi pada akhirnya mengurangi daya tarik pasar.

Citigroup memperkirakan perubahan metodologi free float MSCI dan proses penyeimbangan ulang indeks dapat memicu arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia antara US$1,6 miliar hingga US$34,7 miliar dalam skenario terburuk.

Mirpuri menyebut penghapusan sejumlah emiten Indonesia dari indeks global sebagai proses penyesuaian yang menyakitkan tetapi sehat bagi pasar modal nasional.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa terus menurunnya representasi Indonesia dalam indeks MSCI dan FTSE berisiko membuat Indonesia semakin kurang terwakili dibandingkan ukuran ekonominya.

Padahal, Indonesia merupakan salah satu ekonomi terbesar di Asia dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa. Namun, porsi Indonesia dalam indeks pasar berkembang global masih relatif kecil.

Menurutnya, apabila eksklusi terus berlanjut, Indonesia berpotensi semakin kurang terwakili dibandingkan ukuran ekonomi, demografi, dan potensi pasarnya yang sebenarnya. (ARF)