Hadapi konflik Timur Tengah, UNVR naikkan harga produk di semester II?

Jumat, 05 Juni 2026

image

JAKARTA – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengakui bahwa Perseroan tengah menghadapi tekanan inflasi akibat gangguan rantai pasok imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta pelemahan rupiah terhadap dolar.

“Ya, kami melihat adanya tekanan inflasi … Ini disebabkan situasi di Timur Tengah, terutama bahan baku berbahan dasar minyak, baik itu bahan kimia, kemasan, dan juga minyak sawit … dan juga nilai tukar,” jelas Neeraj Lal, Direktur Keuangan UNVR.

Ia menyatakan bahwa dampak tekanan pada biaya ini diperkirakan akan semakin terasa pada semester II 2026, terutama pada produk home care, seperti deterjen dan sabun cuci piring dan berbagai cairan pembersih rumah tangga lainnya.

Oleh karena itu, Presiden Direktur UNVR Benji Yap mengakui bahwa Perseroan akan mengambil langkah “penyesuaian harga” pada kategori produk tersebut di paruh kedua tahun 2026 ini.

“Akan terdapat penyesuaian harga yang akan dilakukan di semester kedua tahun ini, terutama pada kategori home care, yang paling terdampak,” ujar Benji dalam gelaran Public Expose UNVR 2026 secara daring, Kamis (4/6).

Namun, berdasarkan pemaparan manajemen, aksi penyesuaian harga ini sebenarnya telah dilakukan UNVR sejak kuartal I 2026. Harga jual rata-rata meningkat 1,4% dan turut menopang kenaikan margin laba kotor menjadi 48,8% di periode tersebut.

Selain konflik Timur Tengah, Neeraj juga mengakui bahwa pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan bagi pertumbuhan kinerja UNVR di 2026.

“Ketika berbicara tentang nilai tukar, tentunya ini memberi tekanan karena kami terpengaruh dari bahan baku yang kami beli,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa strategi hedging (lindung nilai) dan kontribusi ekspor mampu membantu menahan tekanan dari pelemahan rupiah tersebut. Namun, pada kuartal I 2026, kinerja ekspor justru tercatat ambles 17%.

Target genjot margin laba kotor berlanjut

Di sisi lain, Benji dan Neeraj masih menargetkan peningkatan moderat pada margin laba kotor UNVR di tahun 2026, setelah margin tersebut melampaui 45% pada akhir 2025 lalu.

“Kami berfokus bertumbuh melampaui pasar—pertumbuhan yang kompetitif—dan berfokus pada volume. Kedua, peningkatan margin yang moderat dibandingkan tahun lalu, serta dampak dari biaya restrukturisasi tahunan yang lebih rendah,” jelas Neeraj pada IDNFinancials.com pada kesempatan yang sama.

Pencapaian target ini juga akan didorong strategi perubahan fokus produk UNVR di 2026. Transformasi portofolio mencakup divestasi bisnis es krim ke Magnum di akhir 2025, serta penjualan Sariwangi ke Grup Djarum pada Maret 2026.

Langkah tersebut kemudian diikuti oleh penguatan pada kategori produk yang lebih menguntungkan dan berpotensi tumbuh pesat, termasuk produk personal care serta beauty & wellbeing.

Pada kuartal I 2026, kontribusi segmen high-growth tersebut terhadap total penjualan melonjak menjadi 10%, dibandingkan dengan 8,3% di periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, efisiensi dan disiplin biaya juga menjadi salah satu strategi UNVR menghadapi tantangan 2026, mulai dari integrasi rantai pasok minyak sawit melalui Unilever Oleochemical Indonesia, serta menekan biaya tenaga kerja hingga lebih dari 20% di sepanjang 2026.

“Kami memiliki skala pengadaan dan pembelian bahan baku di berbagai negara di Asia, yang memberikan keunggulan bagi kami dalam mengamankan bahan baku yang dibutuhkan, pada harga yang sesuai, serta dengan dukungan mata uang yang diperlukan,” jelas Benji lebih lanjut.

Ia menegaskan, dengan portofolio dan kapabilitas global yang dimiliki UNVR tersebut, UNVR akan mampu melewati berbagai krisis Timur Tengah maupun volatilitas rupiah dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. (ZH)