CEO Chevron Mike Wirth bicara soal harga minyak dan investasi
Kamis, 04 Juni 2026
NEW YORK – CEO Chevron, Mike Wirth, menegaskan bahwa harga minyak yang tinggi tidak otomatis mendorong investasi baru di sektor energi.
Menurutnya, investor tetap membutuhkan kepastian regulasi, stabilitas fiskal, dan prospek keuntungan yang jelas sebelum menggelontorkan modal dalam jumlah besar.
Dikutip dari TheStreet, pernyataan tersebut disampaikan Wirth dalam wawancara dengan Bloomberg pada 29 Mei saat membahas kondisi pasar minyak global, gangguan pengiriman energi di Selat Hormuz, serta prospek investasi sektor energi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 50% sejak pecahnya konflik Iran, sementara lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan turun hingga di bawah 10% dari kondisi normal. Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan berpotensi mendorong inflasi.
Wirth mengatakan kondisi eksternal yang tidak menentu justru memperkuat pentingnya disiplin dalam pengambilan keputusan investasi.
"Ketidakpastian lingkungan eksternal menegaskan pentingnya investasi yang disiplin untuk memastikan pasokan energi yang andal dan keamanan energi global," ujarnya.
Menurut Wirth, industri minyak tetap akan berinvestasi, namun hanya pada proyek yang memiliki prospek ekonomi yang memadai.
Harga minyak yang tinggi saja tidak cukup untuk menarik investasi jangka panjang.
Ia menekankan bahwa stabilitas kebijakan, kepastian fiskal, serta tingkat pengembalian modal yang menarik merupakan faktor utama yang menentukan keputusan investasi perusahaan energi.
Venezuela Contoh UtamaWirth menilai Venezuela menjadi contoh yang jelas mengenai pentingnya iklim investasi dalam industri energi.
Negara tersebut memiliki sekitar 300 miliar barel cadangan minyak terbukti, termasuk yang terbesar di dunia. Namun, produksi minyak Venezuela saat ini hanya sekitar 800.000 barel per hari, jauh di bawah puncaknya yang pernah melampaui 3 juta barel per hari.
Menurutnya, kesenjangan antara besarnya cadangan dan rendahnya produksi sebagian besar disebabkan oleh faktor investasi.
"Kami membutuhkan skema fiskal baru agar bersedia berinvestasi di negara tersebut. Saat ini tingkat pajak dan royalti yang harus dibayarkan tidak memberikan ruang yang cukup bagi investor untuk memperoleh keuntungan yang layak," kata Wirth kepada Bloomberg.
Chevron saat ini menjadi satu-satunya perusahaan minyak besar asal Amerika Serikat yang masih beroperasi di Venezuela. Perusahaan tersebut menjalankan sejumlah proyek bersama perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA.
Sementara itu, sejumlah perusahaan energi besar lainnya telah meninggalkan negara tersebut. ExxonMobil pernah mengalami penyitaan aset dan menghentikan operasinya, sementara Shell dan BP kehilangan izin usaha mereka.
Pada Januari 2026, CEO ExxonMobil, Darren Woods, bahkan menyebut Venezuela sebagai negara yang "tidak layak untuk investasi" dalam kondisi saat ini.
Dampak Bagi Pasar MinyakWirth menilai pasar minyak saat ini menghadapi dua tantangan besar.
Pertama, gangguan di Selat Hormuz telah menciptakan guncangan pasokan yang berpotensi memengaruhi harga energi dan pertumbuhan ekonomi global selama konflik masih berlangsung.
Kedua, tingginya harga minyak tidak serta-merta menjamin masuknya investasi baru. Modal hanya akan mengalir ke wilayah yang menawarkan kepastian keuntungan sepanjang umur proyek.
Menurutnya, Venezuela memang memiliki cadangan minyak yang sangat besar, namun hingga kini belum memiliki kerangka fiskal yang cukup menarik untuk mendukung investasi dalam skala besar.
Bagi investor, perbedaan tersebut menjadi faktor penting dalam menilai prospek sektor energi.
Jika konflik Iran mereda, pasokan minyak global dapat pulih relatif cepat karena jalur distribusi melalui Selat Hormuz dapat kembali beroperasi normal.
Namun, peningkatan produksi Venezuela membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang karena memerlukan reformasi ekonomi dan kebijakan yang berkelanjutan.
Wirth menegaskan bahwa Chevron hanya akan meningkatkan investasi di negara-negara yang mampu memberikan kepastian bisnis dan tingkat pengembalian modal yang memadai. (ARF)