NOAA: Peluang terjadi 'Super El Nino' tahun ini 50%
Jumat, 05 Juni 2026
JENEWA - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan fenomena El Nino berpotensi kembali terbentuk dalam beberapa bulan mendatang dan diperkirakan memengaruhi suhu global serta pola curah hujan di berbagai wilayah dunia.
Badan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut menyebut peluang terbentuknya El Nino mencapai 80% pada periode Juni hingga Agustus 2026 dan meningkat menjadi 90% sebelum November 2026.
Dikutip dari Newsweek, WMO menyatakan siklus El Nino terakhir pada 2023-2024 termasuk salah satu dari lima peristiwa terkuat yang pernah tercatat dan turut berkontribusi terhadap rekor suhu global pada 2024.
Model prakiraan terbaru menunjukkan fenomena El Nino berikutnya setidaknya akan berada pada kategori moderat dan berpotensi berkembang menjadi kuat.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyebut El Nino sebagai "peringatan iklim mendesak" karena berpotensi memperburuk pemanasan global yang sedang berlangsung.
Menurutnya, dampak El Nino dapat menyebar dengan cepat melintasi batas negara dan memperparah berbagai risiko iklim yang sudah ada.
Data WMO menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah tengah hingga timur Samudra Pasifik ekuator, yang menjadi indikator utama pemantauan El Nino, terus mendekati ambang batas terbentuknya fenomena tersebut sepanjang akhir April hingga pertengahan Mei 2026.
Pada saat yang sama, Southern Oscillation Index (SOI) atau indeks osilasi atmosfer yang menjadi salah satu komponen utama El Nino juga menunjukkan pola yang konsisten dengan kemunculan fenomena tersebut.
Berdasarkan proyeksi WMO, sebagian besar wilayah dunia diperkirakan mengalami suhu di atas rata-rata antara Juni hingga Agustus 2026.
Pemanasan yang relatif kuat diperkirakan terjadi di kawasan Pasifik, Afrika, Asia, serta benua Amerika sehingga meningkatkan risiko gelombang panas dan berbagai bencana terkait perubahan iklim.
Selain suhu yang lebih tinggi, pola curah hujan global juga diperkirakan akan mengalami perubahan.
Wilayah selatan Amerika Serikat, bagian selatan Amerika Selatan, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah berpotensi mengalami curah hujan yang lebih tinggi dibandingkan biasanya.
Sebaliknya, risiko kondisi yang lebih kering diperkirakan meningkat di Amerika Tengah, bagian utara Amerika Selatan, kawasan Karibia, Australia, serta sejumlah wilayah Asia Selatan.
Perubahan suhu laut juga berpotensi memengaruhi aktivitas badai tropis. Risiko siklon diperkirakan meningkat di wilayah Pasifik tengah dan timur, sementara musim badai Atlantik berpotensi berlangsung lebih tenang.
Apa itu El Nino?El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis yang menjadi bagian dari siklus iklim El Nino-Southern Oscillation (ENSO).
Fenomena ini memiliki pasangan yang berlawanan, yakni La Nina, yang ditandai oleh pendinginan suhu laut di kawasan yang sama.
Siklus ENSO biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dan memengaruhi pola angin, suhu, serta curah hujan di berbagai wilayah dunia.
Dalam kasus El Nino yang sangat kuat atau sering disebut super El Nino, suhu permukaan laut dapat meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas rata-rata selama beberapa bulan berturut-turut.
Sejak 1950, tercatat hanya terjadi lima peristiwa super El Nino yang terjadi di dunia.
Serangkaian Peringatan Lembaga IklimWMO bukan satu-satunya lembaga yang memperingatkan potensi kemunculan dari El Nino.
Pada bulan lalu, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memperkirakan peluang terbentuknya El Nino mencapai 60% pada periode Mei hingga Juli 2026.
Berdasarkan sejumlah model prakiraan, terdapat peluang sekitar 50% bahwa fenomena tersebut dapat berkembang menjadi 'Super El Nino'.
Sementara itu, Climate Prediction Center dalam pembaruan terbarunya menyatakan El Nino kemungkinan akan segera muncul dengan probabilitas mencapai 82% pada periode Mei hingga Juli.
Guterres menegaskan bahwa satu-satunya respons yang efektif terhadap ancaman tersebut adalah mempercepat aksi iklim global, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, mempercepat transisi energi terbarukan, melindungi kelompok rentan, dan memperluas sistem peringatan dini.
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, juga meminta pemerintah dan berbagai lembaga terkait mulai mempersiapkan langkah mitigasi menghadapi potensi dampak El Nino.
Menurutnya, sistem peringatan dini dan prakiraan cuaca musiman akan menjadi instrumen penting untuk membantu pemerintah, lembaga kemanusiaan, serta sektor yang sensitif terhadap perubahan iklim seperti pertanian, energi, dan pengelolaan sumber daya air dalam menghadapi risiko kekeringan, hujan ekstrem, dan gelombang panas. (ARF)