Arus minyak Hormuz mulai pulih, pasar tetap diliputi ketidakpastian

Sabtu, 06 Juni 2026

image

LONDON - Jumlah kapal tanker yang berhasil keluar dari Selat Hormuz mulai meningkat dalam beberapa pekan terakhir seiring penggunaan berbagai metode pelayaran yang lebih tertutup oleh para pelaku industri.

Meski kondisi ini membantu mengurangi sebagian stok minyak yang terjebak di kawasan Teluk, perkembangan tersebut belum menandakan kembalinya situasi ke kondisi normal.

Dikutip dari Reuters, lebih dari empat bulan sejak pecahnya konflik, Amerika Serikat dan Iran masih belum mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang secara resmi dan membuka kembali sepenuhnya jalur pelayaran strategis tersebut.

Penutupan hampir total Selat Hormuz sebelumnya membuat lebih dari 13 juta barel minyak per hari tertahan di kawasan Teluk.

Kondisi tersebut memaksa sejumlah produsen menghentikan operasi ladang minyak dan kilang, sekaligus memicu kekurangan pasokan serta tekanan ekonomi di berbagai negara pengimpor minyak.

Data pemantauan pelayaran dari LSEG dan Kpler menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi sebelum perang.

Sejak konflik dimulai, rata-rata hanya sekitar tiga kapal tanker per hari yang melintasi selat tersebut atau sekitar sepersepuluh dari volume normal.Namun, data persediaan minyak menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Tanker Mode "Gelap"

Analisis terhadap volume minyak yang tersimpan di kapal tanker di kawasan Teluk menunjukkan aktivitas pengiriman minyak sebenarnya mulai meningkat secara bertahap. Hal ini mengindikasikan semakin banyak kapal yang beroperasi di luar jangkauan sistem pelacakan satelit.

Sejumlah kapal tanker diketahui mematikan Automatic Identification System (AIS) sebelum dan sesudah melintasi Selat Hormuz. Praktik ini selama bertahun-tahun kerap digunakan Iran untuk menghindari sanksi Barat.

Dalam praktiknya, kapal tanker dapat "menghilang" dari sistem pelacakan selama beberapa hari saat melintasi selat dan baru muncul kembali beberapa pekan kemudian di dekat tujuan akhir pengiriman.

Perusahaan analisis pelayaran Vortexa memperkirakan sekitar 65% kapal tanker bermuatan yang keluar dari Teluk pada Mei beroperasi dalam mode "gelap". Angka tersebut menunjukkan praktik tersebut kini semakin luas digunakan.

Kondisi ini membuat pasar semakin sulit memantau pergerakan minyak global. Berkurangnya transparansi mengenai rute dan tujuan pengiriman menyulitkan pelaku pasar dalam mengukur arus pasokan yang menjadi dasar pembentukan harga minyak acuan.

Akibatnya, indikator alternatif menjadi semakin penting untuk menilai kondisi pasar.

Salah satu indikator utama adalah volume "oil on water" atau minyak yang masih tersimpan di kapal tanker yang tertahan di kawasan Teluk.

Berdasarkan data Kpler, volume tersebut turun dari puncaknya sebesar 184 juta barel pada 22 Maret menjadi sekitar 148 juta barel pada pekan ini. Penurunan tersebut mengindikasikan laju pengurangan stok sekitar 500.000 barel per hari.

Dalam sebulan terakhir, laju penurunan stok bahkan meningkat menjadi sekitar 710.000 barel per hari. Kondisi ini menjadi indikasi tambahan bahwa arus keluar minyak dari kawasan Teluk mulai meningkat meskipun masih berada dalam berbagai keterbatasan.

Jalur Pelayaran Tidak Jelas

Rute yang digunakan kapal tanker yang beroperasi dalam mode "gelap" masih belum diketahui secara pasti.

Sejumlah kapal diduga menggunakan koridor pelayaran yang ditetapkan Iran. Pemerintah Iran diketahui mengizinkan volume terbatas kapal melintasi Selat Hormuz melalui pengaturan bilateral dengan sejumlah negara Asia, termasuk Pakistan, India, Tiongkok, dan Jepang.

Kondisi tersebut menunjukkan tingginya ketergantungan negara-negara Asia terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk.

Sebagian kapal juga diduga membayar biaya tertentu kepada Iran untuk memperoleh jaminan keamanan saat melintasi selat.

Sementara itu, kapal lainnya kemungkinan menggunakan jalur yang lebih dekat ke wilayah pesisir Oman dengan dukungan langsung maupun tidak langsung dari Angkatan Laut Amerika Serikat yang masih berperan menjaga stabilitas keamanan maritim di kawasan.

Meski demikian, situasi masih sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Iran berpotensi memperketat kembali kontrol terhadap lalu lintas kapal apabila negosiasi dengan Amerika Serikat terus mengalami kebuntuan.

Apa Kendala Utama?

Setelah lebih dari tiga bulan mengalami gangguan ekonomi yang berat, setiap barel minyak yang berhasil diekspor menjadi sumber pendapatan penting bagi produsen minyak Teluk seperti Irak dan Kuwait serta bagi negara-negara pembeli di Asia.

Namun, pemulihan yang berkelanjutan membutuhkan kepastian dan stabilitas yang jauh lebih besar terkait kondisi Selat Hormuz.

Produsen minyak diperkirakan tidak akan mengaktifkan kembali sekitar 11 juta barel per hari kapasitas produksi yang dihentikan selama konflik tanpa jaminan bahwa ekspor dapat berlangsung secara konsisten.

Salah satu kendala utama adalah aspek logistik, yakni kembalinya kapal tanker kosong ke kawasan Teluk.

Tanpa pasokan kapal yang cukup untuk mengangkut minyak, fasilitas penyimpanan darat akan tetap berada di dekat kapasitas maksimum sehingga membatasi dimulainya kembali produksi.

Proses penyeimbangan kembali antara kapal bermuatan yang keluar dan kapal kosong yang masuk hingga kini belum terjadi dalam skala besar.

Pemilik kapal dan penyewa kapal masih berhati-hati mengirim armada ke kawasan tersebut karena risiko terjebak akibat penutupan jalur pelayaran masih tinggi. Premi asuransi juga tetap mencerminkan tingginya risiko tersebut.

Pada akhirnya, pasar energi global mungkin tidak akan pernah kembali ke kondisi seperti sebelum konflik meskipun Selat Hormuz secara resmi dibuka kembali.

Iran diketahui berupaya mempertahankan kontrol atas lalu lintas kapal di selat tersebut sekaligus memperkenalkan sistem pungutan bagi kapal yang melintas. Langkah tersebut berpotensi mengubah cara kerja salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia.

Bagi negara-negara produsen minyak Teluk, kondisi tersebut dinilai sulit diterima karena dapat memaksa mereka mencari jalur ekspor alternatif.

Jika posisi Iran tidak dapat dilemahkan melalui jalur strategis dan diplomatik, sebagian pihak menilai opsi militer dapat kembali muncul dalam perhitungan geopolitik kawasan.

Meningkatnya aktivitas perdagangan yang lebih tertutup memang memberikan sedikit ruang bernapas bagi pasar.

Namun, kondisi tersebut juga mencerminkan pasar energi yang semakin terfragmentasi, berisiko tinggi, dan penuh ketidakpastian sehingga setiap perbaikan yang terjadi berpotensi hanya bersifat sementara. (ARF)