Gelombang aksi jual bitcoin terus terjadi, sentuh US$60.000
Jumat, 05 Juni 2026
NEW YORK - Penurunan harga Bitcoin (BTC) ke kisaran US$60.000 memicu likuidasi posisi long senilai lebih dari US$600 juta.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai apakah pemulihan terbaru menandai titik dasar (bottom) yang sesungguhnya atau hanya sekadar rebound sementara setelah aksi pembersihan leverage (leverage flush).
Dikutip dari FXStreet, harga bitcoin sempat turun ke sekitar US$61.300 pada Kamis (6/4) sebelum kembali menguat 5,52% ke kisaran US$64.690.
Pemulihan tersebut terjadi bersamaan dengan laporan mengenai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang meningkatkan sentimen pasar.
Data CoinGlass juga menunjukkan lebih dari US$737 juta posisi bitcoin dilikuidasi dalam periode 24 jam terakhir.
Sebagian besar kerugian berasal dari posisi long, dengan nilai likuidasi mencapai lebih dari US$617 juta.
Angka tersebut menunjukkan bahwa banyak pelaku pasar sebelumnya mengambil posisi optimistis terhadap pergerakan harga Bitcoin.
Meski demikian, rebound sebesar 5,52% mendorong sebagian analis memperkirakan bitcoin telah mencapai titik terendah jangka pendek.
Trader kripto RidaaXBT menilai bitcoin berpotensi mengalami relief bounce menuju kisaran US$69.000 hingga US$70.000.
Menurutnya, aksi jual yang dipicu likuidasi besar-besaran kemungkinan telah menguras tekanan jual dalam jangka pendek.
Pandangan serupa disampaikan analis ZordXBT yang menyoroti terbentuknya long downside wick pada grafik harga Bitcoin sebagai indikasi bahwa pembeli mulai masuk secara agresif di area harga rendah.
Namun, tidak semua analis memiliki pandangan optimistis.
Level US$50.000 Masih Terbuka?
Trader kripto Hitman42.eth memperingatkan bahwa investor bullish mungkin terlalu cepat merayakan pemulihan harga.
Menurutnya, kenaikan terbaru berpotensi menjadi jebakan (bull trap) bagi pelaku pasar yang berharap tren naik segera berlanjut.
Secara teknikal, grafik mingguan bitcoin masih menunjukkan pola bear flag breakdown yang membuka peluang koreksi lebih dalam menuju area US$50.000 hingga US$52.000.
Pola tersebut muncul setelah Bitcoin gagal kembali menembus garis tren atas dari formasi bear flag. Peningkatan volume transaksi juga memperkuat sinyal pelemahan tersebut.
Meski demikian, skenario bearish belum sepenuhnya terkonfirmasi selama Bitcoin masih diperdagangkan di atas rata-rata pergerakan sederhana 200 minggu (200-week Simple Moving Average/SMA) yang saat ini berada di sekitar US$61.800.
Level tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu area titik dasar siklus pasar Bitcoin pada fase bear market, termasuk pada periode 2015, 2018, dan 2020.
Apabila bitcoin mampu memantul kuat dari level SMA 200 minggu, pola bear flag breakdown dapat melemah atau bahkan batal terbentuk.
Dalam skenario tersebut, Bitcoin berpeluang kembali menguji level psikologis US$70.000 sebagai target kenaikan berikutnya. (ARF)