BoE: Stablecoin akan segera meredup diganti tokenisasi deposito

Jumat, 05 Juni 2026

image

DUBROVNIK - Permintaan terhadap stablecoin berpotensi meredup dalam beberapa tahun ke depan dan digantikan oleh deposito tokenisasi (tokenised deposits) atau versi digital dari simpanan bank tradisional, menurut pembuat kebijakan Bank of England (BoE), Megan Greene.

Dikutip dari Reuters, dalam konferensi di Dubrovnik, Kroasia, Minggu (31/5), Greene mengatakan popularitas stablecoin kemungkinan akan tergeser seiring berkembangnya deposito tokenisasi di sektor perbankan.

Stablecoin merupakan aset kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai yang relatif stabil. Popularitasnya meningkat dalam beberapa tahun terakhir, meskipun pertumbuhan penerbitannya mulai melambat dalam beberapa bulan terakhir.

"Saya pikir tokenisasi deposito kemungkinan akan mengambil alih peran stablecoin. Dalam lima tahun ke depan, kita mungkin akan bertanya-tanya mengapa dulu begitu banyak membahas stablecoin," kata Greene.

Menurutnya, pasar masih memiliki ruang bagi mata uang digital bank sentral (central bank digital currency/CBDC), stablecoin, maupun deposito digital.

Namun, deposito tokenisasi berpotensi menjadi pemenang utama ketika bank-bank komersial menyadari bahwa mereka berisiko kehilangan simpanan nasabah jika tidak mengembangkan produk serupa.

Inovasi keuangan

Pandangan Greene berbeda dengan Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, yang turut hadir dalam panel diskusi yang sama.

Waller mendukung keberadaan stablecoin dan menilai instrumen tersebut merupakan inovasi keuangan yang berpotensi menurunkan biaya transaksi sehingga tidak seharusnya dibatasi melalui regulasi yang berlebihan.

Greene berpendapat deposito digital belum berkembang pesat karena bank-bank komersial enggan kehilangan berbagai sumber pendapatan berbasis biaya (fee-based income).

Namun, menurutnya, bank pada akhirnya tetap akan menghadapi tekanan tersebut sehingga akan terdorong untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya dalam pengembangan deposito tokenisasi.

Ia juga menilai stablecoin tidak sepenuhnya stabil, masih menghadapi berbagai pertanyaan terkait regulasi, serta dalam beberapa kasus digunakan untuk aktivitas ilegal.

Selain itu, stablecoin berpotensi menarik dana simpanan keluar dari sistem perbankan sehingga dapat mengurangi efektivitas transmisi kebijakan moneter.

Sebaliknya, Waller mengatakan stablecoin telah banyak digunakan untuk transaksi lintas batas dan mulai menjadi ancaman bagi industri perbankan tradisional.

"Instrumen ini digunakan untuk pembayaran lintas negara dan membuat bank khawatir. Jika bank tidak menganggapnya sebagai ancaman, mengapa mereka begitu gencar melobi untuk menghentikannya?" ujar Waller.

Masa Depan Aset Digital

Meski demikian, Greene menilai masa depan kemungkinan tidak sepenuhnya berpihak kepada stablecoin mengingat berbagai keterbatasan yang dimilikinya.

Ia mengibaratkan perkembangan aset digital sebagai perlombaan antara kura-kura, kelinci, dan badak.

Menurut Greene, kura-kura melambangkan mata uang digital bank sentral, kelinci mewakili stablecoin, sedangkan badak melambangkan deposito tokenisasi.

"Kemungkinan besar ketiganya akan tetap ada. Namun jika saya harus memilih satu untuk berinvestasi, saya akan memilih badak, yaitu deposito tokenisasi, karena saya yakin instrumen tersebut memiliki peluang terbesar untuk berkembang pesat," katanya. (ARF)