Investor kaya global kurangi eksposur AS, tren dedolarisasi menguat
Jumat, 05 Juni 2026
JAKARTA - Investor keluarga terkaya di dunia mulai mengurangi eksposur mereka terhadap aset Amerika Serikat dan dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, beban utang global, serta kekhawatiran terhadap prospek ekonomi jangka panjang.
Seperti dikutip Cnbc, temuan tersebut tercermin dalam Laporan Kantor Keluarga Global UBS terbaru yang menunjukkan 60% family office berencana melakukan perubahan strategis pada alokasi investasi dalam 12 bulan ke depan. Angka itu hampir dua kali lebih tinggi dibanding rata-rata lima tahun terakhir.
Di antara investor yang akan melakukan penyesuaian, banyak yang berencana memangkas investasi di Amerika Utara dan meningkatkan alokasi ke pasar berkembang, termasuk Amerika Latin dan Afrika.
“Tahun lalu, semua kantor keluarga sangat khawatir tentang ketegangan tarif perdagangan global,” kata Kepala Manajemen Kekayaan Pribadi UBS untuk kawasan Amerika, John Mathews.
“Saat ini, kekhawatiran telah bergeser ke ketegangan geopolitik di seluruh dunia, utang global, dan sekarang suku bunga. Dan bukan hanya implikasi jangka pendek, tetapi juga implikasi jangka panjangnya.”
Perubahan strategi tersebut mencerminkan tren diversifikasi yang semakin kuat di kalangan family office, yaitu entitas investasi yang mengelola kekayaan keluarga-keluarga paling kaya di dunia.
Sejumlah faktor mendorong langkah tersebut, mulai dari konsentrasi pasar saham AS yang semakin tinggi, kekhawatiran terhadap potensi gelembung kecerdasan buatan (AI), perang tarif, pelemahan dolar AS, kebijakan ekonomi yang dinilai tidak menentu, hingga lonjakan utang pemerintah dan imbal hasil obligasi.
Meski demikian, para penasihat investasi menegaskan bahwa langkah tersebut bukan berarti investor global meninggalkan Amerika Serikat secara menyeluruh. Mereka lebih memilih menyebar risiko ke berbagai kawasan di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Perang di Ukraina dan Timur Tengah, perubahan kebijakan perdagangan, isu imigrasi, serta perdebatan terkait utang publik telah memperumit lanskap investasi internasional.
Dalam kondisi tersebut, family office mengadopsi strategi yang dikenal sebagai "jurisdictional diversification", yakni menyebar aset ke berbagai yurisdiksi untuk mengurangi risiko konsentrasi.
Survei UBS menunjukkan dua pertiga family office kini menempatkan aset investasinya di setidaknya tiga yurisdiksi berbeda. Hampir sepertiga lainnya memiliki eksposur di empat yurisdiksi atau lebih, termasuk Amerika Serikat, Eropa, China, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia.
Salah satu tujuan utama mereka adalah mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS atau yang mulai dikenal sebagai tren "de-dollarization".
Lebih dari seperempat family office berencana mengurangi kepemilikan aset berdenominasi dolar dalam 12 bulan ke depan. Dua pertiga responden juga memperkirakan kepercayaan terhadap status dolar sebagai mata uang cadangan dunia akan terus menurun.
Hampir separuh family office menilai portofolio mereka saat ini terlalu bergantung pada dolar AS. Dalam proses diversifikasi tersebut, franc Swiss dan euro menjadi pilihan utama sebagai alternatif mata uang investasi.
Survei juga menunjukkan ketidakpastian geopolitik menjadi risiko terbesar yang dihadapi investor, baik dalam satu tahun maupun lima tahun ke depan. Risiko lain yang paling banyak dikhawatirkan meliputi perang dagang global, hiperinflasi, serangan siber, dan krisis utang.
“Kekuatan-kekuatan ini menunjukkan persiapan bukan hanya untuk volatilitas jangka pendek, tetapi juga untuk periode panjang risiko yang tinggi dan saling terkait,” tulis UBS dalam laporannya.
“Kantor-kantor keluarga tampaknya fokus pada membangun ketahanan di lanskap risiko yang lebih luas dan kompleks, menggabungkan penyesuaian alokasi aset mereka dengan strategi multishoring.”
Ke depan, family office berencana meningkatkan investasi pada saham pasar berkembang, infrastruktur, dan emas. Sebaliknya, mereka akan mengurangi kepemilikan kas dan aset properti.
Meski tren diversifikasi global semakin kuat, family office di Amerika Serikat justru mengambil arah berbeda. Investor kaya AS meningkatkan porsi aset domestik mereka dari 86% menjadi 88% dalam setahun terakhir.
Amerika Utara saat ini masih menguasai 53% dari total aset kantor keluarga global.
Namun family office di luar AS semakin aktif mengalihkan dana ke negara asal maupun kawasan lain. Investor keluarga dari China, misalnya, kini menempatkan sekitar setengah aset mereka di Eropa Barat, sementara family office Eropa Barat menempatkan 41% asetnya di kawasan sendiri.
“Kantor-kantor keluarga di AS sebenarnya malah semakin memperkuat investasi mereka,” kata Mathews. “Tetapi semua kantor keluarga lainnya di seluruh dunia sekarang melakukan diversifikasi dari sekuritas berdenominasi dolar, sedikit dari AS.” (DH)