Kejar target SAF 2030, Jepang genjot pengumpulan minyak jelantah

Jumat, 05 Juni 2026

image

TOKYO - Ibu rumah tangga Jepang, Maki Watanabe, dengan hati-hati menuangkan minyak bekas yang digunakan untuk menggoreng terong ke dalam botol plastik. 

Dari dapurnya di Tokyo, ia turut berkontribusi dalam upaya nasional untuk meningkatkan produksi bahan bakar pesawat ramah lingkungan.

"Dibutuhkan minyak dalam jumlah yang sangat besar untuk menerbangkan sebuah pesawat, jadi saya berharap lebih banyak yang bisa dikumpulkan," ujar Watanabe. 

Seperti dikutip Reuters, hobi memasaknya memungkinkan ia menyumbangkan sekitar 40 liter minyak bekas setiap tahun.

Sumbangan tersebut dikumpulkan di supermarket terdekat yang menjadi salah satu dari sekitar 300 peserta proyek kolaborasi pemerintah dan swasta bertajuk "Fry to Fly".

Program ini semakin mendapat perhatian di tengah perang Iran yang menekan pasokan energi dan meningkatkan biaya bagi Jepang yang miskin sumber daya alam.

Jepang kini semakin bergantung pada partisipasi konsumen seperti Watanabe karena negara itu berpacu untuk mencapai target memperoleh 10% kebutuhan bahan bakar penerbangan dari sumber berkelanjutan pada 2030.

Ekonomi terbesar keempat dunia tersebut memperkirakan membutuhkan sekitar 1,7 juta kiloliter bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) pada 2030.

Pemerintah berharap dapat memenuhi sebanyak mungkin kebutuhan itu dari minyak goreng bekas yang relatif murah sebagai bahan baku SAF.

Namun, keterbatasan bahan baku dan minimnya infrastruktur membuat produksi domestik SAF saat ini hanya sekitar 30.000 kiloliter, atau setara 0,3% dari total konsumsi bahan bakar jet di Jepang.

"Kami menghadapi kenyataan yang jauh lebih berat dari yang diperkirakan," ungkap dua maskapai terbesar Jepang, ANA Holdings dan Japan Airlines, dalam presentasi bersama mengenai SAF pada Mei lalu.

Perburuan minyak goreng bekas ini mencerminkan tantangan besar industri penerbangan, salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar, dalam upaya mengurangi jejak karbonnya.

Investigasi Reuters tahun lalu menunjukkan bahwa hanya sekitar seperlima proyek SAF yang diumumkan maskapai penerbangan di seluruh dunia yang benar-benar terealisasi.

Penggunaan SAF selama ini terkendala biaya yang tinggi. 

Namun kegagalan mencapai target volume produksi pada 2030 juga berpotensi meningkatkan biaya bagi kilang dan maskapai.

Pasalnya, perusahaan penyulingan mungkin harus mengimpor SAF atau bahan baku dengan harga lebih mahal, selain menghadapi potensi sanksi. 

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membebani industri penerbangan.

Sebagai perbandingan, Singapore, yang telah menerapkan mandat nasional SAF sebesar 1%, masih sangat bergantung pada impor bahan baku.

Tahun 2026 menjadi periode yang sangat penting bagi industri penyulingan Jepang.

Pemerintah menyatakan keputusan investasi final harus diambil paling lambat Maret agar produksi massal SAF dapat dimulai pada 2030.

Pemimpin industri energi Jepang, Eneos Holdings, menyebut volume minyak goreng bekas yang berhasil dikumpulkan akan menjadi faktor utama dalam menentukan apakah perusahaan akan melanjutkan proyek bersama Mitsubishi Corporation untuk memproduksi 400.000 kiloliter SAF setelah tahun fiskal 2028.

Proses produksi SAF yang rumit dan mahal—mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan, hidrogenasi hingga distilasi—membuat investasi di sektor ini mengandung risiko yang besar.

Perusahaan rekayasa JGC Holdings, yang tahun lalu mengoperasikan pabrik SAF komersial pertama di Jepang, mengatakan prospek permintaan yang lebih jelas diperlukan untuk membenarkan ekspansi produksi.

Perusahaan patungan JGC bersama Cosmo Energy Holdings dan produsen biodiesel REVO International saat ini memiliki kapasitas produksi sekitar 30.000 kiloliter per tahun.

Seiring semakin dekatnya target 2030, berbagai inisiatif rantai pasok pemerintah dan swasta meningkatkan upaya pengumpulan minyak goreng bekas.

Pemerintah Tokyo ingin melibatkan lebih banyak perusahaan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengoordinasikan pengumpulan minyak dari sekitar 7,8 juta rumah tangga di ibu kota.

Pada tahun fiskal lalu, pemerintah membagikan 13.000 corong plastik yang dilengkapi kode QR berisi petunjuk pengumpulan minyak, setelah hanya berhasil mengumpulkan 160 kiloliter sepanjang 2024.

Berdasarkan perhitungan Reuters menggunakan formula dari perusahaan patungan Saffaire Sky Energy, jumlah tersebut hanya cukup untuk menerbangkan satu pesawat Boeing 787 Dreamliner selama sekitar 17 jam.

"Jika kita tidak memulai sekarang, kita tidak akan mampu mencapai target pada 2030," kata pejabat Pemerintah Tokyo, Yasushi Sato.

Perusahaan Fujifilm termasuk yang mulai mengumpulkan minyak bekas dari kantin karyawan tahun ini. 

Sementara raksasa ritel Aeon, Ito-Yokado, dan 7-Eleven terus menambah titik pengumpulan.

Meski demikian, menurut kelompok daur ulang minyak bekas UCO Japan, bahkan jika seluruh minyak goreng bekas berhasil dikumpulkan, volumenya hanya sekitar 550.000 kiloliter. Jumlah itu hanya mampu menghasilkan sekitar seperempat kebutuhan SAF Jepang pada 2030.

Karena Jepang saat ini sudah mengumpulkan hampir seluruh limbah minyak dari sektor bisnis, para analis menilai impor SAF hampir tidak dapat dihindari sebelum teknologi baru seperti bahan bakar jet berbasis bioetanol siap digunakan secara komersial.

"Dalam kondisi seperti ini, target tersebut sangat ambisius," ujar Motoomi Suzuki, seraya menambahkan bahwa kebutuhan Jepang terhadap bahan baku domestik membuat minyak goreng bekas menjadi satu-satunya pilihan yang realistis dalam jangka pendek. (DK)