Sulfur menipis imbas konflik global, INCO: Suplai cukup hingga Q3-Q4

Jumat, 05 Juni 2026

image

JAKARTA – Emiten nikel terintegrasi PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengakui Perseroan tengah menghadapi risiko suplai sulfur akibat gangguan rantai pasok yang dipicu penutupan Selat Hormuz dan konflik Timur Tengah.

“Konflik di Timur Tengah memang berpengaruh terhadap pasokan beberapa input commodities kami. Salah satunya mungkin minyak, kemudian yang cukup penting adalah sulfur,” aku Andaru Adi, Head of Corporate Finance, Treasury and Investor Relations.

Pasalnya, sulfur digunakan sebagai bahan baku pemrosesan nikel di fasilitas smelter, serta fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL). Namun, level konsumsi sulfur dalam HPAL jauh lebih besar.

INCO kini memiliki fasilitas smelter di Sorowako, sedangkan fasilitas HPAL INCO diproyeksi baru siap beroperasi pada kuartal III 2026. Hal ini membuat kebutuhan sulfur Perseroan masih terkendali.

“Nah, di smelter kami yang saat ini beroperasi di Sorowako, konsumsi sulfur kami memang tidak semasif di pabrik HPAL, ya. Kami hanya membutuhkan sekitar 50-60 ribu ton sulfur setiap tahunnya,” jelas Andaru lebih lanjut pada IDNFinancials, Kamis (4/6).

Dengan demikian, INCO meyakini bahwa pasokan sulfur yang dimiliki hingga saat ini akan mampu mengakomodasi operasional fasilitas pemrosesan nikel Perseroan hingga kuartal III – kuartal IV 2026 mendatang.

Andaru juga menyebutkan bahwa INCO akan terus mengurangi ketergantungan terhadap impor sulfur melalui alternatif bauran pirit – yang bisa dibeli dari pasar domestik.

“Jadi, waktu melakukan produksi nickel matte, komposisi yang kami lakukan adalah kita mengurangi sulfurnya, dan menambah pasokan piritnya,” imbuh Andaru dalam acara Emiten Corner Reliance Sekuritas secara daring, Kamis (4/6).

Di sisi lain, INCO menargetkan HPAL Pomalaa mengawali produksi di akhir kuartal III 2026, dengan proyeksi kapasitas produksi mencapai 120 ribu ton MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) per tahunnya.

Menghadapi risiko lonjakan kebutuhan sulfur, Andaru menyebutkan bahwa mitra Perseroan di fasilitas HPAL tersebut akan membantu menyiapkan sulfur yang dibutuhkan.

“Jadi, stok kami akan cukup untuk beberapa bulan awal kami beroperasi. Sementara itu, di lain sisi, mereka juga melakukan beberapa proses teknologi — lagi-lagi untuk mengurangi ketergantungan akan sulfur,” jelasnya.

Menurut pemaparan Perseroan, INCO mengoperasikan fasilitas HPAL di Pomalaa bersama dengan dua nama besar global, yaitu Huayou asal China sebagai technology partner, serta Ford Motor dari Amerika.

“Rasanya saat ini pasokan memang terganggu, tapi mudah-mudahan kami punya strategi yang cukup untuk menyiasati gangguan tersebut,” pungkas Andaru. (ZH)