Yuan menguat, ekspor China tetap melaju kencang

Jumat, 05 Desember 2025

image

JAKARTA - Penguatan yuan tidak serta merta menghambat lonjakan ekspor China. Meskipun People’s Bank of China mendorong apresiasi mata uang sekitar 3% sejak April ke posisi 7,07 per dolar, tertinggi dalam lebih dari setahun Beijing tetap mempertahankan strategi pertumbuhan berbasis ekspor.

Dikutip reuters.com (03/12), analis memprediksi dolar bisa turun di bawah 7,00 yuan tahun depan dan bahkan mencapai 6,60, namun sinyal dari pleno Partai Komunis Oktober menunjukkan bahwa pemerintah belum siap beralih dari mesin ekspor sebagai penopang ekonomi. Ekspor telah menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan PDB riil dua tahun terakhir.

Secara teori, yuan yang lebih kuat membuat barang China lebih mahal. Namun, data menunjukkan sebaliknya. Brad Setser dari Council on Foreign Relations mencatat bahwa sejak akhir 2019, volume ekspor China naik 40%, sementara impor hanya bertambah 1%.

Salah satu penjelasannya adalah barang China tetap relatif murah dalam ukuran nilai tukar riil efektif (REER). Mata uang ini bahkan berada di titik terlemah dalam 15 tahun, merosot hampir 20% sejak awal 2022. Depresiasi itu dipengaruhi krisis perumahan, perlambatan ekonomi, pelarian modal, dan selisih suku bunga yang tidak menguntungkan.

China juga memiliki keunggulan skala dan dominasi dalam rantai pasok global di sektor strategis seperti kendaraan listrik, panel surya, dan baterai. “Skala besar Tiongkok sangat menakutkan,” kata Marc Chandler dari Bannockburn Capital Markets.

Keunggulan biaya produksi terlihat dari Volkswagen yang menyebut model EV baru di China bisa 50% lebih murah dibandingkan pasar lain.

Selain nilai tukar, faktor seperti permintaan domestik, pertumbuhan ekonomi global, harga komoditas, serta tarif turut memengaruhi neraca perdagangan. Contohnya, Swiss tetap mencatat surplus lebih dari 10% PDB meski franc berada di level REER terkuat dalam 15 tahun. Sebaliknya, Jepang tetap surplus meski yen berada di level terlemah secara historis.

Beijing diperkirakan melanjutkan strategi apresiasi terkelola untuk meredakan ketegangan dagang dengan AS dan negara-negara Asia. Namun pada akhirnya, ekspansi pengaruh China di pasar global tetap menjadi tujuan utama dan penguatan yuan tampaknya tidak akan menghalangi ambisi tersebut. (DH)