Raksasa nikel China mulai cari alternatif Indonesia ke Afrika

Jumat, 05 Juni 2026

image

TIONGKOK - Perusahaan-perusahaan China yang membantu membangun industri nikel Indonesia menjadi produsen terbesar dunia kini mulai mencari alternatif jangka panjang hingga ke Afrika.

Hal ini dilakukan seiring meningkatnya tekanan kebijakan yang menguji model investasi yang selama ini mengubah rantai pasok global.

Seperti dikutip Reuters, Tsingshan Group sedang mempertimbangkan pengembangan proyek besar di Madagascar, menurut Kementerian Pertambangan negara tersebut. 

Sementara itu, Lygend Resources tengah menjajaki proyek di Tanzania serta mempertimbangkan menghidupkan kembali operasi Koniambo di New Caledonia, menurut sumber industri.

Perusahaan-perusahaan China menjadi motor pembangunan smelter dan kawasan industri yang menjadikan Indonesia pusat pertumbuhan global industri nikel, logam yang digunakan untuk baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik, setelah pemerintah melarang ekspor bijih nikel pada 2020.

Porsi Indonesia dalam produksi nikel tambang dunia melonjak menjadi lebih dari 60% pada 2025, dari sekitar 30% pada 2020, menurut data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).

Produksi berbiaya rendah yang didukung China membuat pasar nikel mengalami surplus, menekan harga, dan memaksa produsen berbiaya tinggi seperti Glencore, BHP, dan Sumitomo menutup, menghentikan sementara operasi, atau mencari pembeli untuk aset mereka.

Namun sejak menjabat pada akhir 2024, Presiden Prabowo Subianto berfokus meningkatkan penerimaan dan belanja negara, termasuk program makan gratis senilai US$20 miliar.

Pada akhir Mei, Prabowo mengumumkan rencana menempatkan ekspor batu bara, minyak sawit, dan ferroalloy di bawah kendali negara yang lebih terpusat. 

Meskipun nickel pig iron kemudian dinyatakan tidak termasuk dalam kebijakan tersebut, usulan itu tetap memicu kekhawatiran investor mengenai stabilitas kebijakan.

Sebelum rencana tersebut muncul, investor sudah dibuat khawatir oleh pengetatan kuota penambangan bijih nikel, usulan kenaikan pajak, dan kenaikan tajam harga patokan mineral Indonesia. 

Kamar Dagang China di Indonesia bahkan mengirim surat kepada Prabowo yang memperingatkan bahwa kebijakan tersebut dapat menghambat investasi di masa depan.

"Ini jelas negatif bagi industri," kata Tim Hoff, analis pertambangan senior di Canaccord.

Menurut dia, birokrasi yang bertambah dan kontrol pemerintah atas harga komoditas akan memengaruhi skala investasi.

Investasi asing langsung (FDI) ke Indonesia turun 6% pada 2025, setelah tumbuh 19% pada tahun sebelumnya. 

Investasi di sektor pertambangan mencapai puncaknya pada 2024, sementara investasi baru di sektor pemurnian logam dasar juga mulai stagnan sejak saat itu.

Madagascar Terinspirasi Morowali  

Tsingshan telah mengajukan proposal senilai miliaran dolar untuk membangun kawasan industri berbasis berbagai mineral, termasuk nikel, di Madagascar. 

Menteri Pertambangan Madagascar, Karl Andriamparany, mengatakan proyek tersebut terinspirasi oleh Kawasan Industri Morowali dan Weda Bay di Indonesia, namun masih dalam tahap peninjauan dan belum memperoleh izin tambang.

Di sisi lain, Lygend sedang bernegosiasi untuk membeli saham proyek nikel Kabanga di Tanzania dari Lifezone Metals. 

Proyek tersebut merupakan salah satu cadangan nikel sulfida terbesar yang belum dikembangkan di dunia.

Di kawasan Pasifik, Lygend juga mengajukan penawaran kepada kelompok tambang milik pemerintah New Caledonia, SMSP, untuk mengambil saham di proyek nikel Koniambo yang saat ini tidak beroperasi.

Jika terealisasi, investasi-investasi tersebut akan menjadi ekspansi nikel pertama Tsingshan dan Lygend di luar Indonesia.

Perubahan kebijakan Indonesia telah memperketat proyeksi pasokan nikel dan mendorong harga ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir. 

Kondisi ini memberi harapan baru bagi proyek seperti Koniambo yang pernah memproduksi lebih dari 28.000 ton nikel pada puncaknya pada 2018.

Meski demikian, proyek baru di Madagascar dan Tanzania memiliki risiko lebih tinggi dibanding Indonesia. 

Kedua negara tersebut tidak memiliki kombinasi skala produksi, infrastruktur, dan akses bijih yang dimiliki Indonesia.

Madagascar, yang kini berada di bawah pemerintahan transisi militer setelah kudeta tahun lalu, baru mencabut moratorium izin tambang yang berlaku selama 16 tahun pada Januari. 

Sementara Tanzania membutuhkan investasi hampir US$1 miliar dan waktu sekitar enam tahun untuk mengembangkan proyek Kabanga hingga mencapai kapasitas produksi sekitar 50.000 ton per tahun.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia masih mendominasi industri nikel global, ketidakpastian kebijakan mulai mendorong investor dan perusahaan China mencari opsi diversifikasi di luar negeri. (DK)