Gripen Swedia bersiap hadapi Rusia di langit Ukraina

Jumat, 05 Juni 2026

image

JAKARTA - Pesawat tempur Gripen buatan Swedia bersiap menghadapi ujian terbesar dalam sejarah operasionalnya setelah Ukraina memutuskan menjadikannya tulang punggung angkatan udara dalam perang melawan Rusia.

Seperti dikutip Reuters, pemerintah Ukraina mengalokasikan dana sebesar 2,5 miliar euro dari fasilitas pinjaman Uni Eropa untuk membeli 20 unit Gripen E baru. Selain itu, Swedia juga akan menyumbangkan 16 unit Gripen generasi sebelumnya guna memperkuat pertahanan udara Ukraina.

"Kami membutuhkan jet-jet ini dan bagi kami ini benar-benar lembaran baru bagi Ukraina," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy saat menandatangani kesepakatan bersama Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson di Pangkalan Udara Uppsala pekan lalu.

Kesepakatan tersebut berpotensi berkembang hingga mencakup 150 pesawat. Jika berjalan sesuai rencana, Gripen dapat mulai beroperasi melawan Rusia dalam waktu sekitar satu tahun.

Bagi Swedia dan produsen pesawat Saab, perang di Ukraina akan menjadi pengujian tempur paling signifikan bagi Gripen. Sejak pertama kali terbang pada 1988, pesawat ini telah digunakan sejumlah negara, termasuk Brasil dan Afrika Selatan, namun belum pernah terlibat dalam konflik udara berintensitas tinggi melawan kekuatan militer besar.

"Ini akan menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda, ini akan menjadi ujian terhadap sistem yang sebenarnya dirancang untuk dihadapi oleh pesawat ini: Rusia," kata Johan Huovinen, Letnan Kolonel sekaligus dosen di Universitas Pertahanan Swedia. "Pada akhirnya, ini akan menjadi ujian teknologi Swedia."

Gripen dirancang untuk beroperasi dalam kondisi perang dengan ancaman serangan Rusia. Berbeda dengan pesawat tempur modern yang bergantung pada pangkalan udara besar, Gripen dapat lepas landas dan mendarat di jalan raya atau landasan darurat, sehingga lebih sulit menjadi sasaran serangan.

"Ukraina tidak beroperasi dari pangkalan udara standar NATO yang utuh. Kami menggunakan landasan udara tersebar, landasan pacu tanah, sebagian jalan raya, posisi tersembunyi di seluruh negeri. Gripen dirancang tepat untuk hal ini," kata Oleksii Antoniuk dari Kementerian Pertahanan Ukraina.

"Awak yang terdiri dari enam orang, satu teknisi terlatih dan lima wajib militer, dapat mengisi bahan bakar, mempersenjatai kembali, dan mempersiapkannya untuk misi berikutnya dalam waktu kurang dari 10 menit. Tidak ada pesawat lain di kelas ini yang menawarkan kombinasi tersebut."

Menurut Antoniuk, biaya operasional Gripen hanya sekitar US$8.000 per jam terbang, kurang dari seperempat biaya operasional pesawat tempur siluman F-35. Keunggulan itu dinilai penting dalam perang berkepanjangan yang menuntut efisiensi logistik dan biaya.

Ukraina juga menilai rudal udara-ke-udara Meteor yang dibawa Gripen dapat menekan aktivitas pesawat tempur Rusia di dekat garis depan dan mengurangi efektivitas serangan bom luncur yang menjadi salah satu senjata utama Moskow.

Meski demikian, sejumlah analis menilai kemampuan Gripen tetap memiliki keterbatasan. Pesawat ini tidak memiliki teknologi siluman seperti F-35 dan membawa muatan persenjataan yang lebih ringan.

Peneliti senior Royal United Services Institute (RUSI), Justin Bronk, mengatakan Gripen merupakan pilihan yang tepat bagi Ukraina, tetapi tidak akan mengubah keseimbangan perang secara drastis.

"Hal itu tidak akan memberikan dampak transformatif dalam hal kemampuan Angkatan Udara Ukraina untuk membangun superioritas udara total atau semacamnya, karena jaringan pertahanan udara berbasis darat Rusia ... masih sangat tangguh," ujarnya.

Tantangan lain datang dari kapasitas produksi. Sebelum kontrak Ukraina muncul, Saab telah mengantongi pesanan 117 unit Gripen E. Saat ini perusahaan mampu memproduksi sekitar 15 pesawat per tahun di Swedia dan berupaya meningkatkan kapasitas hingga 20-30 unit per tahun.

Chief Executive Saab, Micael Johansson, mengatakan perusahaan telah menyiapkan investasi untuk meningkatkan produksi dan membuka peluang kerja sama lebih luas dengan Ukraina, termasuk pemeliharaan, perbaikan, serta kemungkinan produksi lokal di masa depan.

"Kami sudah memulai investasi sejak beberapa waktu lalu," kata Johansson. "Seiring waktu, dengan mitra besar seperti Ukraina, hal itu pasti bisa terjadi." Keberhasilan Gripen di Ukraina juga berpotensi membuka peluang ekspor baru bagi Saab. Sejumlah negara, termasuk Kanada, saat ini tengah mempertimbangkan pembelian pesawat tersebut.

Menteri Pertahanan Swedia Pal Jonson menilai kontrak dengan Ukraina akan menjadi etalase penting bagi industri pertahanan negaranya. "Kesepakatan ini merupakan tolok ukur yang akan mendorong lebih banyak negara untuk tidak hanya membeli Gripen, tetapi juga melihat Swedia sebagai pemasok sistem canggih yang kompetitif," kata Jonson.(DH)

Terkait: Kanada kaji batalkan pesan F-35, beralih ke Gripen Swedia