Nissan gaet Gelion produksi mobil listrik lebih murah dibanding China

Jumat, 05 Juni 2026

image

TIONGKOK - Nissan bergabung dalam proyek pengembangan baterai solid-state yang diklaim dapat diproduksi dengan biaya lebih murah dibanding teknologi baterai China saat ini. Proyek tersebut melibatkan Gelion, perusahaan dari Australia dan University of Oxford.

Teknologi Gelion berpotensi menjadi kunci bagi Nissan agar mampu menjual mobil listrik lebih murah dibanding buatan China.

Nissan bertaruh pada teknologi baterai terobosan ini sebagai bagian dari rencana kebangkitannya, di tengah upaya produsen otomotif Jepang yang sedang menghadapi tantangan untuk membalikkan keadaan.

Seperti dikutip electrek, proyek tiga tahun yang diberi nama Cost-effective, Resilient Solid-state Li-S tersebut merupakan kolaborasi antara Gelion, Nissan Technical Center Europe (NTCE), dan University of Oxford.

Dengan menggabungkan material katoda berbasis sulfur milik Gelion, NES (Nano-Encapsulated Sulfur), dengan kemampuan pengembangan baterai solid-state Nissan, proyek ini bertujuan menciptakan generasi baru baterai kendaraan listrik yang lebih aman, lebih murah, dan lebih tahan lama.

Teknologi NES milik Gelion menggantikan nikel dan kobalt yang mahal dengan sulfur yang jauh lebih murah dan tersedia melimpah.

Nissan, Gelion, dan University of Oxford akan menggabungkan sumber daya untuk mengembangkan paket baterai lithium-sulfur solid-state berdaya dan berkapasitas tinggi.

Meski total biaya proyek mencapai sekitar US$4,5 juta (£3,4 juta), Gelion menyatakan akan menerima pendanaan hibah gabungan sekitar US$3,2 juta (£2,4 juta).

Dalam laporan riset yang diterbitkan Kamis berjudul “Cheaper Than China”, Longspur Capital Limited menyatakan:

Gelion berhasil mengembangkan platform material katoda baterai yang menawarkan manfaat baterai lithium-ion berkinerja tinggi, namun dapat diproduksi di negara-negara Barat dengan biaya lebih murah dibandingkan China saat ini, sehingga menciptakan persaingan yang lebih seimbang di sektor strategis ini.

Gelion juga telah membuktikan bahwa teknologi katoda berbasis sulfurnya merupakan peningkatan dibandingkan baterai lithium-ion maupun sodium-ion.

Laporan tersebut menyoroti bahwa salah satu perkembangan teknologi baterai paling penting untuk baterai berkinerja tinggi adalah elektrolit solid-state, dan Gelion juga tengah mengembangkan teknologi katoda untuk kebutuhan tersebut.

Perusahaan menargetkan peluncuran prototipe komersial pada tahun fiskal 2027, sejalan dengan target Nissan untuk meluncurkan EV pertama berbasis baterai solid-state pada 2028.

Menurut Longspur Capital, Nissan akan memanfaatkan teknologi sulfur Gelion agar penawaran EV solid-state miliknya tetap kompetitif menghadapi produsen China.

Presiden Gelion UK dan Eropa sekaligus pemimpin proyek, Adrien Amigues, mengatakan proyek ini berpotensi menjadi pengubah permainan bagi Inggris, Nissan, dan Gelion.

“Teknologi kami sangat cocok untuk baterai solid-state,” ujarnya.

Nissan membuka lini produksi baterai EV solid-state pertamanya di pabrik Yokohama, Jepang, pada Januari 2025 dan bekerja sama dengan perusahaan AS, LiCAP Technologies, untuk produksi massal.

Dengan teknologi Activated Dry Electrode milik LiCAP yang menghilangkan kebutuhan proses pengeringan dan penggunaan pelarut, Nissan meyakini memiliki keunggulan signifikan dari sisi biaya dan efisiensi.

Nissan belum mengungkapkan spesifikasi teknis rinci. Namun, sejumlah pihak mengklaim baterai solid-state dapat menggandakan jarak tempuh dibandingkan baterai lithium-ion konvensional, memungkinkan kendaraan menempuh lebih dari 1.000 kilometer dalam sekali pengisian daya.

Sementara Nissan terus menjalin kemitraan baru untuk mengembangkan dan memproduksi baterai solid-state, sejumlah perusahaan China sudah mulai menguji prototipe teknologi tersebut.

Dalam beberapa bulan mendatang, beberapa merek China, termasuk BYD, berencana mulai meluncurkan kendaraan listrik yang menggunakan baterai solid-state.

Pada April lalu, kepala ilmuwan BYD, Lian Yubo, mengatakan baterai EV solid-state sepenuhnya telah memasuki “tahap krusial”, meskipun masih terdapat tantangan untuk produksi massal.

BYD juga mengembangkan baterai solid-state berbasis sulfida. 

Perusahaan berencana memulai produksi terbatas tahun depan sebelum meningkatkan skala menuju produksi massal pada 2030.

CTO divisi baterai BYD, Sun Huajun, menjelaskan tahun lalu bahwa elektrolit sulfida memiliki umur pakai lebih panjang dan lebih stabil dibandingkan baterai lithium-ion cair konvensional. 

Teknologi ini memungkinkan baterai yang lebih aman, pengisian daya lebih cepat, dan masa pakai lebih panjang.

Selain mendukung investasi Nissan di pabrik Sunderland, Inggris, perusahaan tersebut juga mengumumkan pada Rabu bahwa mereka telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Chery International untuk menjajaki kemungkinan memproduksi kendaraan bagi produsen otomotif China tersebut di fasilitas yang sama. (DK)