Mary Barra soroti kelebihan produksi EV di Tiongkok
Jumat, 05 Juni 2026
DETROIT -- CEO General Motors (GM), Mary Barra, menilai pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Tiongkok tidak hanya menghadapi perang harga yang semakin ketat, tetapi juga mengalami kelebihan kapasitas produksi.
Dikutip dari Business Insider, Barra menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara di podcast Decoder milik The Verge ketika membahas strategi GM menghadapi persaingan dengan produsen otomotif Tiongkok.
Barra juga mengungkapkan bahwa saat ini terjadi perang harga yang luar biasa. "Tidak mungkin lebih dari 100 produsen otomotif (original equipment manufacturer/OEM) di satu negara dapat terus bersaing, terutama ketika persaingan kini bertumpu pada harga," ujarnya.
Menurutnya, pasar kendaraan listrik di Tiongkok juga mengalami kelebihan kapasitas sehingga mendorong produsen untuk mengekspor kendaraan ke berbagai pasar global.
Ia menambahkan bahwa dalam banyak kasus ekspor tersebut turut didukung oleh berbagai bentuk subsidi sehingga meningkatkan tekanan persaingan di pasar internasional.
Barra mengatakan GM akan berupaya menjaga keseimbangan antara memenuhi standar regulasi dan keselamatan di Tiongkok dengan terus melakukan evaluasi terhadap perkembangan produk para pesaing asal Tiongkok.
Pandangan serupa pernah disampaikan Barra dalam konferensi TechCrunch Disrupt pada Oktober 2024. Saat itu ia menyebut pasar kendaraan listrik Tiongkok telah mengalami kejenuhan sehingga harga kendaraan terus menurun.
"Perlu dilihat seperti apa model bisnis yang berkelanjutan karena kondisi yang terjadi saat ini tidak dapat berlangsung selamanya," katanya.
Akui Tekanan Perang Harga
Sejumlah produsen otomotif Tiongkok juga mulai mengakui dampak negatif perang harga terhadap profitabilitas industri.
BYD, misalnya, melaporkan penjualan sebanyak 396.270 kendaraan pada September. Angka tersebut turun 5,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 419.426 unit.
Dalam laporan keuangan Agustus, BYD menyatakan profitabilitas jangka pendek perusahaan tertekan akibat praktik industri yang dinilai kurang sehat, termasuk promosi pemasaran yang berlebihan dan pemberian diskon secara agresif.
Pendiri sekaligus CEO Xpeng, He Xiaopeng, juga memperkirakan sebagian besar produsen otomotif Tiongkok tidak akan mampu bertahan dalam satu dekade ke depan.
"Saya pribadi berpandangan bahwa hanya akan ada tujuh perusahaan otomotif besar yang masih bertahan dalam 10 tahun mendatang," ujarnya dalam wawancara dengan The Straits Times pada November lalu.
Meski demikian, He tidak menyebutkan perusahaan mana saja yang diperkirakan akan menjadi bagian dari tujuh pemain utama tersebut.
GM sesuaikan strategi EV
Pekan lalu, GM mengumumkan pembebanan biaya (charge) sebesar US$1,6 miliar terkait penyesuaian strategis kapasitas produksi kendaraan listrik dan jejak manufakturnya agar lebih sesuai dengan permintaan konsumen.
Di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden, pembeli kendaraan listrik baru di Amerika Serikat berhak memperoleh kredit pajak hingga US$7.500, sementara pembeli kendaraan listrik bekas memperoleh insentif sebesar US$4.000.
Namun, pemerintahan Presiden Donald Trump menghapus insentif kendaraan listrik tingkat federal tersebut pada bulan lalu.
GM memperkirakan pencabutan insentif tersebut akan memperlambat tingkat adopsi kendaraan listrik di Amerika Serikat.
"Kami memperkirakan pertumbuhan kendaraan listrik akan melambat. Industri dan berbagai lembaga riset eksternal juga memiliki pandangan yang sama. Namun yang penting, kami tetap melihat pasar kendaraan listrik masih akan terus tumbuh," kata Barra.
Saham GM sendiri telah menguat lebih dari 27% sejak awal tahun hingga saat ini. (ARF)