Bitcoin turun di bawah US$62.000, ini kata Michael Saylor
Jumat, 05 Juni 2026
NEW YORK - Executive Chairman Strategy, Michael Saylor, menilai aksi jual bitcoin yang terjadi belakangan ini lebih mencerminkan pergeseran aliran modal ke sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dibandingkan melemahnya fundamental bitcoin itu sendiri.
Dikutip dari Bitcoin Magazine, Saylor menyampaikan pandangannya melalui platform X ketika harga bitcoin turun tajam hingga menembus level US$62.000.
Bitcoin sempat merosot hingga US$61.400 dalam perdagangan semalam sebelum memangkas sebagian kerugiannya dan kembali ke kisaran US$62.400 pada perdagangan prapasar Kamis.
Dalam 24 jam terakhir, harga bitcoin turun sekitar 7%, sementara dalam sepekan terakhir telah melemah lebih dari 14%.Saham Strategy yang diperdagangkan dengan kode MSTR juga terkoreksi hampir 15% dalam lima hari perdagangan terakhir.
Penurunan tersebut mendorong bitcoin masuk ke wilayah bear market secara teknis setelah harganya turun sekitar 22,7% dari puncak tertinggi dalam empat pekan terakhir. Koreksi tersebut juga menghapus lebih dari US$600 miliar nilai pasar aset kripto secara keseluruhan.
Di tengah perdebatan mengenai penyebab pelemahan harga Bitcoin, Saylor menegaskan bahwa pasar modal saat ini tengah mengalihkan pendanaan dalam skala besar ke pembangunan infrastruktur AI.
"Pasar modal mendanai pembangunan AI dalam skala bersejarah, sekitar US$400 miliar dalam enam bulan terakhir. ETF Bitcoin mencatat arus keluar sekitar US$4 miliar sejak 14 Mei yang memberikan tekanan terhadap BTC. Ini adalah rotasi modal, bukan penurunan kualitas aset bitcoin. Volatilitas menciptakan peluang," tulis Saylor.
Menurutnya, sejumlah investor institusi saat ini menarik sebagian dana dari Bitcoin untuk dialihkan ke investasi infrastruktur AI.
Belanja AI Melonjak
Argumen Saylor mendapat dukungan dari besarnya investasi yang mengalir ke sektor AI.
Konsensus Wall Street memperkirakan belanja modal gabungan perusahaan hyperscaler dapat melampaui US$600 miliar pada 2026.
Sementara itu, CreditSights memperkirakan sekitar US$450 miliar dari jumlah tersebut akan dialokasikan untuk perangkat keras AI, server, dan infrastruktur jaringan.
Namun demikian, pernyataan Saylor muncul bersamaan dengan langkah yang memicu perhatian pasar.
Strategy, yang merupakan pemegang bitcoin korporasi terbesar di dunia dengan kepemilikan 843.706 BTC, mengungkapkan dalam dokumen Form 8-K tertanggal 1 Juni 2026 bahwa perusahaan menjual 32 bitcoin pada periode 26-31 Mei dengan harga rata-rata US$77.135 per koin.
Penjualan tersebut menghasilkan dana bersih sekitar US$2,5 juta setelah dikurangi biaya transaksi.
Dana tersebut digunakan untuk membayar dividen saham preferen STRC milik perusahaan.
Secara nilai, transaksi tersebut relatif kecil dibandingkan total kepemilikan Bitcoin Strategy yang bernilai sekitar US$61 miliar.
Namun secara psikologis, pasar memandang langkah tersebut sebagai perubahan sikap yang cukup signifikan.
Sejak akhir 2022, Strategy tidak pernah menjual bitcoin. Selama ini, Saylor dikenal sebagai salah satu tokoh yang secara konsisten mengakumulasi bitcoin dalam jumlah besar.
Sejumlah analis menilai langkah penjualan tersebut memperburuk sentimen pasar dan turut mempercepat penurunan harga Bitcoin.
Perkuat neraca keuangan
Dua pekan sebelum penjualan Bitcoin dilakukan, Strategy juga mulai mengalihkan fokus dari akumulasi aset kripto menuju penguatan neraca keuangan perusahaan.
Perusahaan membeli kembali obligasi konversi berbunga 0% yang jatuh tempo pada 2029 senilai US$1,5 miliar dengan pembayaran tunai sekitar US$1,38 miliar.
Transaksi tersebut dilakukan dengan diskon sekitar 8% dan berhasil mengurangi kewajiban utang perusahaan sekitar US$120 juta.
Langkah itu menurunkan total utang obligasi konversi yang beredar dari US$8,2 miliar menjadi US$6,7 miliar.
Meski demikian, Strategy masih memiliki cadangan kas sebesar US$871 juta.
Pada saat itu, perusahaanyang tercatat memiliki 843.738 Bitcoin tersebut, menyatakan berencana membangun kembali cadangan likuiditas melalui penggalangan modal pada masa mendatang. (ARF)