Moody's soroti sinyal bahaya di balik pertumbuhan ekonomi AS
Sabtu, 06 Juni 2026
JAKARTA - Kepala Ekonom Moody's Analytics, Mark Zandi, menilai ekonomi Amerika Serikat mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan meskipun produk domestik bruto (PDB) masih mencatat pertumbuhan.
Seperti dikutip Businessinsider, dalam analisis terbarunya, Zandi mengatakan laju pertumbuhan ekonomi saat ini masih berada di bawah potensi yang seharusnya dapat dicapai.
Kondisi tersebut membuat prospek ekonomi AS menjadi semakin rentan. "Ekonomi sedang tumbuh, tetapi dengan laju di bawah potensinya, jadi situasinya rapuh," kata Zandi.
"Kecuali pertumbuhan meningkat, pengangguran akan naik dan partisipasi akan turun, dan pada titik tertentu, akan merusak pertumbuhan secara keseluruhan."
Zandi selama beberapa waktu terakhir konsisten mengingatkan risiko yang muncul dari kebijakan tarif dan imigrasi Presiden AS Donald Trump. Pada 2025, ia bahkan memperingatkan ekonomi AS berada di ambang resesi sebelum kemudian memperburuk proyeksinya dalam beberapa bulan berikutnya.
Meski ekonomi masih mampu bertahan dari berbagai tekanan, Zandi melihat sejumlah risiko baru mulai bermunculan. Salah satunya berasal dari lonjakan harga energi akibat konflik Iran yang mendorong kenaikan inflasi.
Ia termasuk kelompok ekonom yang menilai dampak perang akan mengurangi manfaat dari kebijakan pemotongan pajak yang dijalankan pemerintahan Trump.
Selain tekanan inflasi, Zandi juga menyoroti pelemahan pasar tenaga kerja yang mulai menghambat pertumbuhan pendapatan masyarakat. "Pasar kerja yang lesu menekan pertumbuhan upah, dan dengan inflasi yang meningkat, pertumbuhan upah riil hampir terhenti."
Pendapatan riil yang dapat dibelanjakan tidak tumbuh selama setahun terakhir.Menurut Zandi, perlambatan pertumbuhan upah riil dan stagnasi pendapatan yang dapat dibelanjakan berpotensi menekan konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi AS.
Ia juga mengingatkan tantangan yang dihadapi bank sentral dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Zandi menilai kondisi ekonomi sebenarnya mendukung pemangkasan suku bunga untuk menopang pertumbuhan dan pasar tenaga kerja.
"Pertumbuhan di bawah potensi dan adanya kelonggaran dalam perekonomian menunjukkan perlunya penurunan suku bunga, terutama karena target suku bunga dana federal tetap di atas perkiraan suku bunga netral," kata Zandi.
Namun, inflasi yang terdorong oleh tarif impor dan konflik Iran justru membatasi ruang gerak bank sentral. "Namun, tarif dan perang melawan Iran telah mendorong inflasi hingga jauh di atas 3% dan mendekati 4%, dua kali lipat target inflasi The Fed."
Menurutnya, jika ekspektasi inflasi terus meningkat, bank sentral kemungkinan akan memilih menaikkan suku bunga meski langkah tersebut berisiko mendorong ekonomi masuk ke jurang resesi. Zandi menilai prioritas utama saat ini adalah meredakan faktor-faktor yang memicu tekanan harga agar ekonomi tidak kehilangan momentum pertumbuhan.
"Agar perekonomian tidak terpuruk, pertama dan terutama, perang Iran harus segera berakhir, menormalkan produksi dan harga minyak global,"nya. "Pengembangan kecerdasan buatan dan kontribusinya terhadap pertumbuhan secara keseluruhan juga harus terus berlanjut dengan cepat."
Peringatan Zandi menambah daftar kekhawatiran terhadap prospek ekonomi AS yang saat ini menghadapi kombinasi pertumbuhan yang melambat, inflasi yang kembali meningkat, serta ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi.(DH)