S&P tolak jalur cepat SpaceX masuk Indeks S&P 500
Jumat, 05 Juni 2026
JAKARTA - Rencana SpaceX untuk masuk cepat ke indeks saham utama Wall Street menghadapi hambatan setelah S&P Global memutuskan mempertahankan aturan lama terkait keanggotaan indeks S&P 500.
Keputusan tersebut menjadi pukulan bagi perusahaan antariksa milik Elon Musk yang tengah bersiap melaksanakan penawaran saham perdana (IPO) terbesar dalam sejarah dengan target valuasi mencapai US$1,75 triliun.
Seperti dikutip Reuters, dengan valuasi tersebut, SpaceX berpotensi langsung masuk jajaran 10 perusahaan publik paling bernilai di Amerika Serikat. Namun S&P menegaskan ukuran kapitalisasi pasar tidak cukup untuk mendapatkan perlakuan khusus.
"Pengecualian terhadap persyaratan kelayakan finansial, pengalaman, dan IWF (faktor bobot investasi) tidak boleh diberikan semata-mata berdasarkan kapitalisasi pasar".
Melalui keputusan itu, S&P menolak usulan untuk melonggarkan sejumlah syarat utama, termasuk masa pencatatan minimum di bursa, ketentuan jumlah saham yang beredar di publik, serta persyaratan profitabilitas.
Sesuai aturan yang tetap berlaku, perusahaan wajib membukukan laba berdasarkan standar akuntansi Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) pada kuartal terakhir dan secara kumulatif selama empat kuartal terakhir untuk dapat masuk ke indeks S&P 500.
Persyaratan tersebut menjadi tantangan bagi SpaceX. Perusahaan mencatat rugi bersih US$4,94 miliar sepanjang 2025 meskipun pendapatannya naik 33% menjadi US$18,67 miliar.
Sebelumnya, S&P sempat berkonsultasi dengan investor mengenai kemungkinan mempercepat akses perusahaan berkapitalisasi besar ke indeks utama, termasuk mengurangi masa tunggu setelah IPO dan menghapus persyaratan profitabilitas.
Apabila aturan tersebut berubah, dana indeks pasif yang mengikuti S&P 500 dan mengelola aset bernilai triliunan dolar akan terpaksa membeli saham SpaceX setelah perusahaan masuk indeks.
Chief Market Strategist B. Riley Wealth, Art Hogan, menilai keputusan S&P menjaga "S&P Dow Jones Indices sangat kredibel karena berbasis aturan dan memastikan adanya profitabilitas sebelum masuk ke indeks," kata Hogan.
"Membuat pengecualian karena perusahaan-perusahaan tersebut sangat besar dan telah menjadi perusahaan swasta begitu lama namun masih belum menguntungkan, tidak masuk akal."
Sementara itu, Nasdaq mengambil pendekatan berbeda. Operator bursa tersebut telah mengubah aturan sehingga perusahaan teknologi berkapitalisasi besar yang baru melantai di bursa, termasuk SpaceX dan Anthropic, dapat lebih cepat masuk ke indeks Nasdaq 100.
Ketika SpaceX nantinya memenuhi syarat masuk Nasdaq 100, dana indeks yang mengikuti indeks tersebut akan membeli sebagian besar saham publik yang tersedia di pasar.
Persaingan antar penyedia indeks dan operator bursa semakin ketat seiring mendekatnya IPO sejumlah perusahaan teknologi bernilai tinggi seperti SpaceX, Anthropic, dan OpenAI.
Mereka berupaya menarik lebih banyak perusahaan untuk melantai di pasar saham di tengah tren penurunan jumlah emiten yang tercatat di bursa Amerika Serikat selama beberapa tahun terakhir.
Meski menolak memberikan jalur cepat menuju S&P 500, S&P Global tetap membuka peluang bagi SpaceX untuk masuk ke indeks yang cakupannya lebih luas.
Perusahaan indeks tersebut mengumumkan perubahan aturan pada S&P Total Market Index dan Dow Jones U.S. Total Stock Market Index yang memungkinkan SpaceX bergabung lebih cepat ke kedua indeks tersebut.
Selain itu, SpaceX juga telah memenuhi syarat untuk masuk ke Russell U.S. Equity Indexes dan FTSE Global Equity Index Series setelah FTSE Russell memperkenalkan aturan percepatan masuk bagi emiten baru berkapitalisasi besar.(DH)