Beth Hammack lebih khawatir lonjakan inflasi

Sabtu, 06 Juni 2026

image

CLEVELAND - Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, mengatakan bank sentral Amerika Serikat kemungkinan perlu kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi yang sudah tinggi terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan.

Dikutip dari Reuters, dalam pidatonya di City Club of Cleveland pada Selasa, Hammack menyatakan bahwa berdasarkan data ekonomi terbaru, dirinya lebih mengkhawatirkan risiko inflasi yang tetap tinggi dibandingkan dengan risiko terhadap pasar tenaga kerja.

Menurutnya, terdapat kemungkinan kebijakan moneter saat ini belum cukup ketat untuk menurunkan inflasi kembali ke target Federal Reserve sebesar 2%.

"Berdasarkan data yang ada, saya lebih khawatir terhadap meningkatnya risiko inflasi yang bertahan pada level tinggi dibandingkan dengan risiko terhadap lapangan kerja penuh. Saya juga melihat kemungkinan kebijakan moneter saat ini belum cukup ketat untuk mengembalikan inflasi ke target 2%," ujarnya.

Hammack memperingatkan bahwa apabila The Fed menunggu hingga terdapat bukti pasti bahwa inflasi telah mengakar dalam perekonomian, maka penyesuaian kebijakan yang dibutuhkan akan jauh lebih besar dan berbiaya lebih tinggi.

Ia menekankan pentingnya menjaga ekspektasi inflasi masyarakat tetap terkendali.

Menurutnya, apabila ekspektasi inflasi terus meningkat, kondisi tersebut dapat menjadi alasan bagi The Fed untuk mengambil langkah tegas guna memastikan publik tetap percaya bahwa inflasi akan kembali turun menuju target.

Meski demikian, Hammack menilai mempertahankan suku bunga pada level saat ini masih merupakan langkah yang wajar mengingat tingginya ketidakpastian prospek ekonomi.

"Namun jika tren yang terjadi belakangan ini terus berlanjut, mungkin akan segera tepat untuk mengambil tindakan," katanya.

Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%-3,75% dalam rapat kebijakan yang dijadwalkan berlangsung pada 16-17 Juni.

Hammack, yang merupakan anggota pemegang hak suara dalam komite penetapan kebijakan The Fed, sebelumnya menyampaikan perbedaan pendapat pada rapat 28-29 April terkait pernyataan kebijakan yang mengindikasikan langkah berikutnya adalah penurunan suku bunga.

Inflasi terdorong harga energi

Hammack mengungkapkan bahwa percepatan inflasi saat ini banyak dipengaruhi oleh dampak perang Iran yang didukung Amerika Serikat dan telah mengganggu pasar energi global.

Kondisi tersebut membuat sejumlah pejabat The Fed mulai mempertimbangkan kemungkinan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Bahkan, pasar kontrak berjangka suku bunga saat ini menunjukkan ekspektasi bahwa langkah berikutnya dari The Fed adalah kenaikan suku bunga.

Dalam pidatonya, Hammack menjelaskan bahwa sekalipun perang berakhir dalam waktu dekat, gangguan terhadap rantai pasok dan pasar energi masih akan berlangsung cukup lama.

"Apa yang saya dengar dari pelaku usaha, khususnya di sektor energi, adalah bahwa bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali besok, diperlukan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan arus pasokan minyak seperti sebelumnya," ujarnya.

Menurut Hammack, kondisi tersebut akan terus menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian.

Ia menegaskan bahwa gambaran inflasi saat ini tidak menggembirakan.

"Inflasi masih terlalu tinggi dan terus bergerak naik," katanya.

Data menunjukkan tekanan harga terjadi secara luas, baik pada barang maupun sektor jasa nonperumahan.

Hammack memperingatkan bahwa inflasi berisiko tetap tinggi apabila biaya energi tidak segera turun dan perusahaan merasa tidak memiliki pilihan selain menaikkan harga kepada konsumen.

Selain energi, ia menyebut kenaikan tarif listrik, premi asuransi kesehatan, dan biaya perangkat lunak juga turut mendorong inflasi.

Meski demikian, Hammack menilai perekonomian Amerika Serikat secara keseluruhan masih menunjukkan ketahanan yang kuat.

Pasar tenaga kerja juga tetap stabil dengan tingkat pengangguran yang mendekati kondisi lapangan kerja penuh.

Ia menambahkan bahwa kondisi keuangan saat ini masih mendukung pertumbuhan ekonomi, bukan menjadi penghambat aktivitas ekonomi. (ARF)