Data kerja AS perkuat kubu Hawkish, Kevin Warsh hadapi ujian berat

Sabtu, 06 Juni 2026

image

JAKARTA - Lonjakan penciptaan lapangan kerja di Amerika Serikat memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve belum perlu melonggarkan kebijakan moneternya.

Data ketenagakerjaan yang dirilis Jumat (5/6) bahkan mendorong pasar meningkatkan taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun.

Seperti dikutip Reuters, Departemen Tenaga Kerja AS, melaporkan ekonomi negeri itu menambah 172.000 pekerjaan pada Mei, lebih dari dua kali lipat perkiraan pasar.

Tingkat pengangguran bertahan di level 4,3%, sementara revisi data dua bulan sebelumnya menunjukkan pasar tenaga kerja lebih kuat dari perkiraan.

Laporan tersebut muncul kurang dari dua pekan sebelum Ketua The Fed Kevin Warsh memimpin rapat pertamanya pada 16-17 Juni.

Sebelumnya, pasar memperkirakan Warsh akan membuka jalan bagi suku bunga yang lebih rendah. Namun data terbaru justru menggeser ekspektasi ke arah sebaliknya.

Peluang kenaikan suku bunga pada Desember kini meningkat menjadi sekitar 70%, dibandingkan sekitar 50% sehari sebelumnya. Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack menilai pasar tenaga kerja saat ini nyaris mencapai kondisi pekerjaan penuh.

"Ini tepat berada di sekitar definisi saya tentang lapangan kerja penuh," kata Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, dalam sebuah unggahan di LinkedIn.

"Sebaliknya, inflasi menceritakan kisah yang berbeda. Inflasi tinggi, dan terus meningkat. Jika tren terkini berlanjut, mungkin akan segera tepat untuk mengambil tindakan."

Kuatnya pasar tenaga kerja membuat perhatian pejabat bank sentral kembali tertuju pada inflasi yang masih bertahan tinggi.

Selama beberapa waktu terakhir, banyak pembuat kebijakan khawatir perlambatan perekrutan tenaga kerja dapat mengancam pertumbuhan ekonomi. Namun tren tiga bulan terakhir menunjukkan kondisi yang lebih solid.

Ekonom Capital Economics, Stephen Brown, mengatakan data ketenagakerjaan terbaru semakin mengurangi alasan bagi The Fed untuk mengabaikan tekanan inflasi.

"Kenaikan berturut-turut ketiga dalam jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian pada bulan Mei yang melampaui konsensus seharusnya semakin mengurangi kekhawatiran di antara FOMC tentang risiko penurunan pasar tenaga kerja, sehingga semakin mempersulit The Fed untuk mencoba mengabaikan tingkat inflasi inti dan inflasi utama yang tinggi," tulis Stephen Brown, Kepala Ekonom Amerika Utara untuk Capital Economics, dalam sebuah catatan setelah rilis data ketenagakerjaan tersebut.

Menurut Brown, selama pasar tenaga kerja tidak mengalami pelemahan tajam pada musim panas, peluang kenaikan suku bunga sebagai langkah pencegahan semakin besar pada tahun ini.

Perubahan pandangan juga terlihat di kalangan pejabat The Fed. Gubernur The Fed Christopher Waller, yang sebelumnya mendukung penurunan suku bunga, kini menilai pasar tenaga kerja relatif stabil dan inflasi kembali menjadi tantangan utama.

"Saya tidak bisa lagi mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut di masa mendatang jika inflasi tidak segera mereda," kata Waller dalam pernyataannya bulan lalu.

Warsh sendiri sebelumnya berpendapat kebijakan Presiden Donald Trump dan perkembangan kecerdasan buatan akan meningkatkan produktivitas sehingga memungkinkan suku bunga turun bersamaan dengan meredanya inflasi.

Namun perkembangan ekonomi terbaru menunjukkan arah berbeda.

Inflasi masih bertahan lebih dari satu poin persentase di atas target 2% The Fed dan berpotensi mencatat tahun keenam berturut-turut di atas sasaran tersebut.

Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan memperkirakan inflasi AS baru kembali ke target pada akhir 2027 akibat dampak perang yang melibatkan Iran.

"Jadi, kami sekarang sedikit menunda kembalinya ke target," kata Juru Bicara IMF Julie Kozack pada hari Kamis.

Di sisi lain, sejumlah pejabat The Fed mulai secara terbuka membahas kemungkinan perlunya kebijakan yang lebih ketat. Sikap tersebut berpotensi berbenturan dengan harapan Presiden Trump yang menginginkan biaya pinjaman lebih rendah di bawah kepemimpinan Warsh.

Tekanan inflasi juga masih diperburuk oleh dampak perang Iran yang telah memasuki bulan keempat. Gangguan di Selat Hormuz dan tingginya biaya energi terus merembet ke harga pupuk, logistik, hingga bahan baku industri.

Presiden Federal Reserve Kansas City Jeffrey Schmid mengatakan bank sentral kini menghadapi keputusan sulit antara menunggu atau kembali menaikkan suku bunga.

"Pertanyaan besar sekarang adalah apakah kita akan tetap sabar?" kata Presiden Federal Reserve Kansas City, Jeffrey Schmid, pada hari Kamis di sebuah forum ekonomi di Oklahoma.

"Angka inflasi kita mungkin telah merayap naik ke kisaran 3,50%, yang tidak disukai siapa pun."(DH).