Blokade laut AS tekan Iran, ekspor minyak anjlok 84%

Sabtu, 06 Juni 2026

image

JAKARTA - Ekspor minyak Iran merosot ke level terendah dalam sedikitnya enam tahun setelah blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat menekan jalur ekspor utama negara tersebut.

Seperti dikutip Aljazeera, data terbaru menunjukkan ekspor minyak mentah dan kondensat Iran turun dari hampir 2 juta barel per hari menjadi di bawah 300.000 barel per hari pada Mei.

Penurunan tajam itu terjadi setelah Washington memulai blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada 13 April sebagai bagian dari upaya menekan Teheran dalam perundingan pascakonflik.

Iran mengecam langkah tersebut sebagai tindakan ilegal dan menyebut penyitaan kapal di sekitar pelabuhannya sebagai bentuk "pembajakan".

Sebelum blokade diberlakukan, Iran justru sempat menikmati lonjakan pendapatan minyak. Penutupan Selat Hormuz oleh Teheran setelah pecah perang dengan AS dan Israel pada akhir Februari mendorong harga energi global naik tajam dan menghambat ekspor negara-negara Teluk lainnya.

Di tengah gangguan tersebut, Iran masih mampu mempertahankan ekspor minyaknya dan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga minyak yang sempat menembus US$90 hingga lebih dari US$100 per barel.

Namun kondisi berubah setelah blokade AS dimulai. Berdasarkan data Kpler, ekspor minyak Iran pada Mei hanya menghasilkan sekitar US$837 juta. Angka itu jauh di bawah pendapatan Maret yang diperkirakan mencapai US$5,13 miliar ketika ekspor rata-rata mencapai 1,84 juta barel per hari.

Perhitungan tersebut menunjukkan pendapatan minyak Iran pada Mei turun sekitar 84% dibandingkan Maret. Jika dibandingkan dengan tingkat pendapatan yang diperoleh pada awal tahun, Iran diperkirakan kehilangan hampir US$5,8 miliar selama April dan Mei.

Meski ekspor merosot, produksi minyak Iran masih berlanjut. Namun sebagian besar minyak yang tidak dapat dijual kini disimpan dalam tangki darat maupun kapal tanker yang berfungsi sebagai penyimpanan terapung.

Menurut Kpler, sekitar 147 juta barel minyak mentah dan kondensat Iran saat ini tersimpan di kapal tanker. Dari jumlah tersebut, sekitar 67 juta barel berada di kawasan Teluk dan Teluk Oman tanpa bisa melewati garis blokade AS.

Peneliti kebijakan energi Marc Ayoub menilai tekanan terbesar akan muncul ketika kapasitas penyimpanan Iran mulai menipis.

“Iran secara strategis menggunakan kapasitas penyimpanan yang tersisa. Data menunjukkan blokade tersebut berhasil, tetapi tekanan sebenarnya muncul begitu kapasitas penyimpanan mulai menipis.”

Sebagian ekspor masih berhasil keluar dari Iran. Sekitar 300.000 barel per hari dilaporkan tetap mencapai pasar internasional melalui berbagai jalur yang mampu menghindari pembatasan.

“Beberapa kapal masih berhasil melewati batas maritim sejak blokade dimulai. Iran telah menemukan cara untuk menghindari beberapa pembatasan, itulah sebabnya ekspor terus berlanjut, meskipun pada tingkat yang jauh lebih rendah.”

Namun Ayoub menilai dampak utama blokade bukan pada produksi minyak, melainkan pada arus pendapatan yang menjadi sumber pembiayaan ekonomi dan militer Iran, terutama dari penjualan ke China sebagai pembeli terbesar minyak Iran.

Sementara itu, upaya memanfaatkan jalur darat menuju China dinilai sulit menggantikan peran ekspor laut. Kapasitas angkutan kereta api jauh lebih kecil dibanding kapal tanker, sementara sebagian besar ladang minyak Iran dan fasilitas pengolahan di China berada jauh dari koridor logistik darat.

Meski tekanan ekonomi mulai terasa di Iran, para analis menilai hasil akhir dari strategi ini akan ditentukan oleh kemampuan masing-masing pihak menanggung dampak ekonomi yang muncul.

Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz tidak hanya membebani Iran, tetapi juga menghambat ekspor negara-negara Teluk lain dan mempertahankan tekanan terhadap harga energi global.

“Tekanan kini mulai terasa di Iran. Pertanyaannya adalah apakah Amerika Serikat dapat mempertahankan konsekuensi ekonomi yang lebih luas cukup lama agar tekanan tersebut dapat memberikan efek yang diinginkan.”

Menurut Ayoub, isu utama dalam konflik tersebut tetap berkisar pada penguasaan Selat Hormuz.

“Apa pun kesepakatan yang akhirnya tercapai, isu utamanya tetaplah siapa yang mengendalikan selat tersebut. Entah Iran mempertahankan pengaruhnya dalam satu bentuk atau lainnya, atau konfrontasi akan berlanjut selama berbulan-bulan.”(DH)