Indonesia lampaui target EBT, batu bara masih pegang kendali
Sabtu, 06 Juni 2026
JAKARTA- Porsi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran listrik nasional mencapai 17,89% hingga April 2026, melampaui target pemerintah sebesar 16,46%.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno mengatakan capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi proses transisi energi yang tengah dijalankan Indonesia.
"Komposisi NRE (Non-Recurring Engineering) telah meningkat melebihi target," seperti dikutip Antaranews.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sistem kelistrikan nasional masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, terutama batu bara. “(Upaya transisi energi) masih perlu dipercepat untuk mengurangi dominasi bahan bakar fosil dalam sistem kelistrikan nasional.”
Produksi listrik nasional selama periode tersebut mencapai 165,51 terawatt-hour (TWh). Batu bara masih menjadi sumber energi utama dengan kontribusi 64,87% terhadap total pembangkitan listrik nasional.
Pulau Sumatra menjadi wilayah dengan porsi energi terbarukan tertinggi. Dari total produksi listrik 32,42 TWh, energi terbarukan menyumbang 41,76% atau melampaui batu bara yang berada di level 38,40%.
Sebaliknya, sistem kelistrikan Jawa-Bali yang menyuplai sebagian besar kebutuhan listrik nasional masih didominasi batu bara. Dari total produksi 87,43 TWh, batu bara berkontribusi 70,99%, sementara energi terbarukan hanya 10,01%.
Sementara itu, PT PLN menegaskan komitmennya mempercepat pengembangan pembangkit energi bersih melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan 76% tambahan kapasitas pembangkit dalam satu dekade ke depan akan berasal dari energi bersih.
Rencana tersebut mencakup pembangunan 52,8 gigawatt (GW) pembangkit berbasis surya, hidro, angin, dan panas bumi yang didukung sistem penyimpanan energi baterai serta pumped storage hydropower.
Menurut Darmawan, implementasi proyek telah berjalan. Hingga tahun pertama pelaksanaan RUPTL, sebanyak 22,57 GW atau 43% dari target kapasitas energi terbarukan telah memasuki tahap pengembangan, sementara 0,78 GW telah beroperasi.
"Dari total 52,8 GW, 43 persen pembangkit listrik berbasis energi terbarukan sedang dalam proses pelaksanaan. Kami diwajibkan untuk melaporkan setiap dua minggu sekali."(DH)