Eropa batal larang mesin bensin 2035, low-emission jadi jalan tengah
Jumat, 05 Desember 2025

JAKARTA - Uni Eropa akhirnya melunak terkait rencana pelarangan penjualan mobil bermesin pembakaran internal (ICE) pada 2035.
Dikutip motor1.com (03/12), desakan kuat dari industri otomotif, persoalan infrastruktur EV yang belum memadai, harga mobil listrik yang masih tinggi, serta kekhawatiran hilangnya ratusan ribu pekerjaan membuat kebijakan tersebut ditinjau ulang.
Tekanan terbesar datang dari Jerman. Surat Kanselir Friedrich Merz kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen disebut telah “sangat diterima dengan baik di Brussels,” menurut Komisioner Transportasi dan Pariwisata Berkelanjutan, Apostolos Tzitzikostas.
Ia mengonfirmasi bahwa mesin pembakaran tetap boleh beroperasi setelah 2035, asal menggunakan bahan bakar rendah emisi dan terbarukan.
UE kini membuka pintu bagi bahan bakar sintetis dan biofuel seperti HVO100, yang digunakan BMW dan diklaim mengurangi emisi hingga 90%. Porsche juga telah memproduksi eFuel di Chile sejak 2022 dengan proses yang disebut diproduksi dalam cara yang praktis netral karbon.
Rencana kebijakan yang semula diumumkan 10 Desember ditunda hingga akhir bulan. UE masih harus memutuskan nasib plug-in hybrid, range extender, dan apakah kendaraan yang memakai bahan bakar fosil tetap akan dilarang.
Meski aturan nantinya hanya berlaku pada mobil baru, kesiapan infrastruktur untuk synthetic fuel disebut masih jauh dari target. Sementara itu, penjualan EV terus naik dan kini mencapai 18,3% dari total pasar, tetapi masih di bawah hybrid yang menguasai 34,7%.
Tzitzikostas menyebut UE ingin memastikan transisi yang layak secara ekonomi dan adil secara sosial, dengan mempertimbangkan semua teknologi pengurangan emisi, termasuk mesin pembakaran versi bersih.
Tidak semua pabrikan sepakat. Volvo dan Polestar mendesak agar larangan 2035 tetap diberlakukan sesuai rencana awal.(DH)