Goldman Sachs: Permintaan minyak terpukul lebih besar dari prediksi

Minggu, 07 Juni 2026

image

JAKARTA — Goldman Sachs dalam sebuah catatan pada hari Jumat (5/6/26) mengatakan bahwa permintaan minyak global telah menurun lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.

Kondisi ini, seperti dikutip Reuters (5/6/26) menimbulkan risiko dua arah terhadap proyeksi harga minyak mentah Brent pada kuartal IV 2026 sebesar US$90 per barel dan harga WTI sebesar US$83 per barel.

Bank tersebut memperkirakan terjadi penghancuran permintaan (demand destruction) minyak global sebesar 4 juta hingga 5 juta barel per hari (mbpd) pada bulan April.

Penutupan Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak tampaknya telah mengurangi permintaan minyak global sekitar 4% hingga 5%.

Penurunan permintaan ini didorong oleh melemahnya konsumsi, terutama di China dan Eropa Barat, di mana laporan penjualan bahan bakar ritel pada bulan April menunjukkan hasil yang lemah, menurut Goldman Sachs.

Estimasi tersebut didasarkan pada tiga pendekatan berbeda, termasuk:

  • Analisis tingkat operasi kilang minyak (refinery runs) global,
  • Indikator frekuensi tinggi (high-frequency indicators) untuk permintaan minyak,
  • Perkiraan dari lembaga peramal pasar dan perusahaan perdagangan komoditas lainnya.

Meskipun penurunan permintaan ini menciptakan risiko penurunan harga minyak, Goldman Sachs juga menekankan adanya risiko kenaikan harga yang signifikan apabila Selat Hormuz tetap ditutup dan pasokan global semakin menyusut.

Pada hari Jumat tercatat kontrak berjangka minyak Brent ditutup di US$93,09 per barel, turun US$1,94 atau 2,04%. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup di US$90,54 per barel, turun US$2,50 atau 2,69%. (YS)