Bos Nvidia ramal krisis chip memori akan berlangsung lama
Minggu, 07 Juni 2026
JAKARTA – CEO Nvidia Corp, Jensen Huang, memperkirakan kelangkaan chip memori global masih akan berlangsung selama beberapa tahun ke depan, seiring tingginya permintaan untuk pengembangan Artificial Intelligence (AI).
Pernyataan itu disampaikan Huang menjelang pengumuman kerja sama Nvidia dengan SK Hynix di Seoul, Korea Selatan, yang dijadwalkan pada Senin (8/6).
Menurut laporan Reuters, Nvidia dan SK Hynix akan memperkuat kolaborasi di berbagai bidang, mulai dari pengembangan superkomputer AI, prosesor, komputer pribadi generasi terbaru, hingga robotika.
"Jadi kami berada di sini untuk menyusun rencana dan mungkin besok kami akan menyampaikan beberapa pengumuman," ujar Huang.
Selain membahas kerja sama tersebut, Huang juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi industri semikonduktor global. Menurutnya, gangguan pasokan tidak hanya terjadi pada chip memori, tetapi juga di seluruh rantai pasok pendukung produksi.
“Kondisi ini kemungkinan akan terus berlangsung selama beberapa tahun ke depan,” kata Huang.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan pasar, mengingat peran SK Hynix sebagai pemasok utama High Bandwidth Memory (HBM) untuk produk Nvidia.
Berdasarkan data Counterpoint Research yang dikutip Bloomberg, SK Hynix memimpin pasar HBM dengan pangsa 57% dari pendapatan global di kuartal IV 2025. Samsung Electronics berada di posisi kedua dengan pangsa pasar 22%, disusul Micron Technology sebesar 21%.
Meski prospek industri AI masih dinilai kuat, saham-saham sektor semikonduktor terkoreksi pada perdagangan Jumat (5/6).
Harga saham SK Hynix turun 9,92% pada penutupan, namun sejak awal tahun masih melonjak 205,76%. Sementara itu harga saham Nvidia melemah 6,20%, tetapi masih mencatat kenaikan 8,60% sejak awal tahun. (KR)