Bos Rosneft ungkap kontak Pandora di balik blokade Amerika atas Iran

Senin, 08 Juni 2026

image

ST. PETERSBURG – Kepala Eksekutif Rosneft, Igor Sechin, mengatakan pada Sabtu bahwa perusahaan energi Amerika Serikat menjadi pihak yang paling diuntungkan dari penutupan Selat Hormuz. 

Namun, ia memperingatkan bahwa ketegangan berkepanjangan di jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia itu dapat merusak permintaan minyak dalam jangka panjang.

Seperti dikutip Reuters, Iran memblokade Selat Hormuz, jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta berbagai komoditas penting lainnya termasuk pupuk, setelah Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Februari. 

Sebagai balasan, AS juga memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sechin, sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin dan salah satu tokoh paling berpengaruh di sektor energi Rusia, menilai tindakan AS merupakan upaya mengubah struktur dasar pasar energi global agar sesuai dengan kepentingan Amerika. 

Namun, ia menambahkan bahwa risiko strategis dari langkah tersebut belum sepenuhnya diperhitungkan.

“Penutupan Selat Hormuz adalah upaya untuk membentuk ulang aturan pasar energi global demi keuntungan Amerika Serikat. Langkah-langkah yang diambil untuk memblokade selat itu ditujukan kepada Iran, tetapi dampaknya justru berbalik mengenai seluruh dunia. Risiko strategisnya diremehkan,” kata Sechin dalam Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg.

“Pihak yang paling diuntungkan tentu saja adalah perusahaan-perusahaan Amerika yang memperoleh keuntungan nonkompetitif dan kemampuan untuk mengamankan pasokan berbiaya tinggi,” ujarnya. 

“Ketegangan berkepanjangan di Selat Hormuz akan melemahkan permintaan minyak dalam jangka panjang. Hal ini juga dapat memicu gelombang baru minat terhadap energi alternatif.”

Amerika Serikat saat ini merupakan produsen minyak terbesar di dunia, diikuti Arab Saudi dan Rusia.

Data Kementerian Keuangan Rusia menunjukkan pendapatan pajak minyak dan gas Rusia, yang menyumbang sekitar seperlima pendapatan anggaran negara, meningkat 32,4% secara tahunan pada Mei menjadi 678,9 miliar rubel (US$9,3 miliar). 

Kenaikan itu didorong reli harga minyak global akibat perang di Timur Tengah. 

AS juga memperpanjang pengecualian sanksi yang memungkinkan pembelian minyak Rusia melalui jalur laut untuk membantu negara-negara yang rentan terhadap krisis energi akibat perang Iran.

Sechin mengatakan China merupakan negara yang paling siap menghadapi krisis tersebut berkat kebijakan negara yang matang. 

Namun, ia memperingatkan bahwa jalur perdagangan strategis lain seperti Selat Malaka, Bab el-Mandeb, dan Gibraltar juga berisiko mengalami gangguan.

Menurutnya, jika Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat, harga minyak dapat berada di kisaran US$95–96 per barel pada akhir tahun ini, kemudian turun menjadi US$80–85 per barel dalam setahun, dan kembali mengikuti fundamental pasar pada paruh kedua 2027.

Dalam pidato berjudul “The Beginning of the End or the End of the Beginning: What Is Left at the Bottom of Pandora’s Box?”, Sechin mengatakan berbagai masalah global terus membesar, mulai dari militerisasi negara-negara besar, gelembung pasar keuangan terbesar sejak abad ke-19, hingga ancaman kekurangan listrik, pangan, dan air.

“Di dasar kotak Pandora itu, kita pada akhirnya akan menemukan kekurangan listrik global, krisis pangan, kekurangan tembaga dan logam lainnya, serta krisis air,” kata Sechin.

Sechin, yang dikenal skeptis terhadap kerja sama Rusia dengan OPEC+, juga mengatakan bahwa kelompok tersebut telah kehilangan sebagian potensinya setelah keluarnya Uni Emirat Arab dari aliansi, menyusul keluarnya Qatar dan beberapa negara lain sebelumnya.

“Akibatnya, produksi aliansi turun dari 58 juta barel per hari menjadi 37 juta barel per hari dalam 10 tahun terakhir,” ujarnya.

Sechin menambahkan bahwa sebagian besar anggota utama OPEC+ justru meningkatkan produksi sejak kesepakatan 2016. Sementara itu, produksi minyak Rusia turun sekitar 1,5 juta barel per hari.

“Ini merupakan penurunan sebesar 15% yang harus dikompensasi melalui investasi yang diperlukan setidaknya 10 triliun rubel. Kami memperkirakan kerja sama investasi antara negara-negara anggota aliansi dan Rusia juga akan terus berkembang,” kata Sechin. (DK)