Bos Goldman Sachs: Pasar didominasi keserakahan dibanding ketakutan
Senin, 08 Juni 2026
NEW YORK - CEO Goldman Sachs, David Solomon, menyampaikan penilaian yang lugas mengenai kondisi pasar saham saat ini.
Dalam acara Economic Club of New York pada 2 Juni, ia mengatakan bahwa pasar lebih didorong oleh keinginan meraih keuntungan dibandingkan kekhawatiran terhadap risiko.
Seperti dikutip TheStreet, komentar tersebut muncul di tengah gelombang penggalangan dana terkait kecerdasan buatan (AI) yang menghasilkan transaksi dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di Wall Street.
Berbicara kepada Leslie Picker dari CNBC, Solomon mengatakan investor saat ini menunjukkan selera yang besar terhadap imbal hasil.
"Kita jelas berada pada momen ketika keserakahan lebih besar daripada ketakutan. Salah satu alasannya adalah karena pihak yang membutuhkan modal datang ke pasar karena modal tersebut tersedia," kata Solomon.
Pernyataan itu disampaikan setelah Alphabet berhasil menghimpun dana ekuitas senilai US$80 miliar, yang menjadi transaksi penawaran saham lanjutan terbesar yang pernah dilakukan. Menurut Solomon, transaksi tersebut merupakan bukti nyata bahwa pasar mampu menyerap kebutuhan pendanaan AI dalam skala sangat besar.
"Ini adalah titik data konkret pertama untuk transaksi sebesar ini, dan hasilnya menggembirakan," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pasar saat ini memiliki tingkat kekayaan dan likuiditas yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menyerap kebutuhan pendanaan tersebut.
Solomon juga menyampaikan pesan langsung kepada perusahaan yang sedang mempertimbangkan penggalangan dana.
"Jika modal tersedia dan perusahaan Anda membutuhkan modal, ambillah modal itu. Modalnya tersedia."
Meski pernyataannya tentang "lebih banyak keserakahan daripada ketakutan" menjadi sorotan luas, Solomon menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak serta-merta berarti pasar berada dalam gelembung atau akan segera mengalami koreksi.
"Keserakahan bisa berubah menjadi ketakutan dengan sangat cepat, tetapi itu tidak berarti pasti akan terjadi.
Euforia bisa berlangsung dalam waktu yang lama. Ada kemungkinan besar kita masih berada di awal siklus, bukan di akhir," katanya.
Menurut Solomon, yang ia gambarkan adalah lingkungan pasar dengan ketersediaan modal yang tinggi, sehingga perusahaan yang ingin menghimpun dana menemukan kondisi yang sangat mendukung.
Komentar Solomon muncul di tengah lonjakan aktivitas pasar modal yang terkait dengan AI. Goldman Sachs menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari tren tersebut.
Pada 2026, Goldman menguasai pangsa pasar sebesar 29% dalam bisnis penasihat merger dan akuisisi berdasarkan nilai transaksi, tertinggi dalam sejarah perusahaan untuk periode yang sama.
Sejumlah perusahaan teknologi besar seperti OpenAI, Anthropic, dan SpaceX juga disebut tengah mempersiapkan potensi penawaran umum perdana saham (IPO) yang dapat menempatkan valuasi mereka pada level triliunan dolar AS.
Di saat yang sama, berbagai perusahaan teknologi sedang mencari pendanaan untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI, yang secara langsung meningkatkan aktivitas bisnis penasihat dan penjamin emisi Goldman Sachs.
Solomon menggambarkan adanya efek berantai yang dapat memperpanjang siklus pertumbuhan saat ini.
Keuntungan yang diperoleh dari perusahaan-perusahaan AI menghasilkan kekayaan baru yang kemudian diinvestasikan kembali ke perusahaan rintisan dan putaran pendanaan berikutnya.
"Banyak orang telah menghasilkan banyak uang dari sejumlah perusahaan ini, dan mereka akan menginvestasikannya kembali," ujarnya.
Solomon menjadi CEO bank besar kedua dalam beberapa pekan terakhir yang menggunakan istilah yang mengindikasikan adanya euforia pasar.
Sebelumnya, CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, juga menggambarkan sentimen investor saat ini sebagai sangat antusias.
Meski demikian, baik Solomon maupun Dimon tidak memprediksi koreksi pasar dalam waktu dekat.
Menurut Solomon, perdebatan utama bukan lagi soal apakah AI merupakan teknologi yang kuat, melainkan mengenai waktu dan valuasi.
Pasar saat ini menilai perusahaan-perusahaan AI berdasarkan ekspektasi pertumbuhan masa depan yang belum tentu terwujud sesuai jadwal yang telah tercermin dalam harga saham saat ini.
Karena itu, pernyataan bahwa pasar menunjukkan lebih banyak keserakahan daripada ketakutan patut diperhatikan investor, meski tidak dapat diartikan sebagai sinyal untuk menjual saham. (DK)