100 Hari perang Irak, warga AS terdampak lonjakan harga

Senin, 08 Juni 2026

image

WASHINGTON - Seratus hari setelah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai, warga Amerika menghadapi tekanan keuangan yang semakin besar akibat kenaikan harga bahan bakar dan pangan.

Kondisi ini terjadi di tengah ekonomi yang telah menghadapi berbagai tantangan dari kebijakan domestik dan luar negeri Presiden AS, Donald Trump, termasuk tarif perdagangan.

Seperti dikutip Al Jazeera, perang tersebut juga tidak populer di kalangan publik.

Jajak pendapat CBS News menunjukkan 66% warga Amerika tidak menyetujui cara Trump menangani konflik dengan Iran.

Hasil serupa ditemukan dalam survei ABC News/Washington Post-Ipsos, yang menunjukkan 61% responden menilai aksi militer terhadap Iran sebagai sebuah kesalahan.

Dampak ekonomi paling terasa dirasakan oleh konsumen.

Menurut analisis Moody’s Analytics, rata-rata rumah tangga Amerika telah mengeluarkan biaya tambahan sekitar US$750 akibat perang. Sebagian besar kenaikan pengeluaran berasal dari sektor energi, dengan biaya rata-rata bertambah US$447,19.

“Ini merupakan pukulan ekonomi yang besar,” kata Kepala Ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi.

Ia menambahkan bahwa beban terbesar dirasakan oleh rumah tangga berpendapatan menengah dan rendah yang sudah menghadapi tekanan ekonomi sebelumnya.

Profesor Hubungan Ekonomi Internasional di The Fletcher School, Universitas Tufts, Michael Klein, menjelaskan bahwa kelompok berpendapatan menengah dan rendah menghabiskan porsi pendapatan yang lebih besar untuk kebutuhan dasar seperti makanan dan perumahan, sementara harga keduanya terus meningkat.

Harga bensin melonjak tajam. 

Pada Jumat, harga rata-rata bensin reguler mencapai US$4,22 per galon, naik dari US$2,98 per galon pada 28 Februari, hari ketika AS dan Israel pertama kali melancarkan serangan ke Iran.

Sejak saat itu, Iran membalas dengan menyerang infrastruktur energi di kawasan dan memperlambat lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur yang menangani sekitar seperlima ekspor minyak dan gas dunia.

Gangguan tersebut mendorong kenaikan harga energi global.

Kenaikan harga energi menjadi faktor utama lonjakan inflasi.

Dalam laporan terbaru Personal Consumption Expenditures (PCE), harga energi naik 5,5%. Inflasi keseluruhan meningkat menjadi 3,8% dari 3,5% pada bulan sebelumnya, yang merupakan kenaikan terbesar dalam tiga tahun.

Akibat tekanan ekonomi tersebut, banyak warga Amerika mengurangi aktivitas berkendara. Survei American Muscle menemukan 12% warga lebih sering bekerja dari rumah karena mahalnya bensin, sementara survei Washington Post/ABC News-Ipsos menunjukkan 44% responden mengaku mengurangi penggunaan kendaraan.

Sentimen konsumen juga terus melemah. Indeks sentimen konsumen Universitas Michigan turun menjadi 44,8 pada Mei, dari 49,8 pada April.

Universitas tersebut menyebut gangguan pasokan di Selat Hormuz sebagai faktor utama yang mendorong kenaikan harga bensin dan menekan kepercayaan konsumen.

Survei McKinsey menunjukkan sentimen konsumen berada pada level terendah dalam dua tahun terakhir.

Selain itu, laporan kepercayaan konsumen The Conference Board menemukan dua pertiga konsumen AS mulai mengurangi pengeluaran karena meningkatnya biaya hidup.

Industri penerbangan juga terkena dampak. Bulan lalu, Spirit Airlines menghentikan operasinya setelah lebih dari tiga dekade beroperasi.

Dalam dokumen pengadilan, maskapai berbiaya rendah tersebut menyebut kenaikan harga bahan bakar sebagai salah satu penyebab utama penutupan.

Sementara itu, sejumlah maskapai lain menyesuaikan tarif. United Airlines, misalnya, mengumumkan kenaikan harga tiket hingga 20% pada akhir April.

Secara keseluruhan, harga tiket pesawat naik 2,7% pada Maret dan bertambah 2,8% lagi pada April.

Selain energi, kenaikan biaya juga mulai merambah sektor pangan.

Pada April, harga makanan naik 0,5%, kenaikan terbesar sejak November 2022.

Tekanan terhadap harga pangan diperkirakan akan semakin besar.

Kawasan Teluk merupakan pemasok utama nitrogen dan sulfur yang digunakan dalam pupuk.

Bank Dunia memperkirakan harga pupuk akan naik 31% hingga akhir tahun, sementara harga urea dapat melonjak 60%.

Kawasan tersebut menyumbang 36% ekspor urea dunia.

Akibatnya, produsen makanan mulai menaikkan harga untuk mengantisipasi biaya operasional yang lebih tinggi pada musim mendatang.

Menurut Jonathan Ernst, asisten profesor ekonomi di Universitas Case Western Reserve, petani AS menghadapi tekanan ganda karena harus membayar lebih mahal untuk bahan bakar diesel sekaligus pupuk.

Dampak penuh terhadap harga pangan kemungkinan baru akan terlihat enam hingga sembilan bulan setelah masa panen.

Beberapa komoditas sudah menunjukkan kenaikan harga.

Harga daging naik 1,3%, sementara buah dan sayuran meningkat 1,8%.

Harga tomat bahkan melonjak 15% hanya dalam satu bulan pada Maret, didorong oleh tarif dan tingginya biaya energi.

Perang juga memengaruhi pasar perumahan. Suku bunga hipotek tetap 30 tahun naik dari 5,98% pada Februari menjadi 6,5% pada akhir bulan lalu.

Kenaikan suku bunga hipotek terjadi karena perang mendorong naik imbal hasil obligasi pemerintah AS akibat tingginya harga energi dan inflasi. Ekspektasi inflasi yang lebih tinggi membuat pemberi pinjaman menuntut tingkat bunga yang lebih besar untuk mengimbangi penurunan nilai uang di masa depan.

“Ketika orang memperkirakan inflasi lebih tinggi, pemberi pinjaman akan meminta suku bunga yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas berkurangnya nilai dolar yang akan mereka terima di masa mendatang,” kata Klein. (DK)