Hong Kong rajai IPO global, kinerja emiten baru merosot
Senin, 08 Juni 2026
JAKARTA - Bursa Hong Kong mempertahankan posisinya sebagai pasar penawaran saham perdana (IPO) terbesar di dunia.
Menurut KPMG, seperti dikutip dari CNBC, Hong Kong menjadi pasar IPO terbesar secara global berdasarkan dana yang dihimpun pada tahun lalu, mengungguli New York Stock Exchange dan Nasdaq.
Tren tersebut berlanjut sepanjang 2025 hingga kuartal pertama 2026. Saat ini, lebih dari 600 perusahaan tercatat sedang mengantre untuk melantai di bursa Hong Kong.
Di balik tingginya aktivitas IPO, performa saham-saham baru justru menunjukkan pelemahan. Data Wind Information mencatat sekitar separuh dari 179 perusahaan yang melantai sejak Januari 2025 mengalami penurunan harga saham dalam tiga bulan terakhir.
Kinerja tersebut tertinggal dibandingkan indeks acuan Hang Seng yang hanya mencatat pelemahan terbatas. Bahkan, indeks global IPO FTSE Renaissance masih membukukan kenaikan lebih dari 10% dalam periode yang sama.
Disisi lain, tekanan lebih besar terlihat pada saham yang masuk dalam program Stock Connect, skema yang memungkinkan investor China daratan berinvestasi langsung di pasar Hong Kong. Dari 33 saham yang bergabung ke program tersebut pada Maret lalu, lebih dari separuh sempat melonjak lebih dari dua kali lipat sejak IPO hingga menjelang masuk Stock Connect.
Sebanyak delapan saham bahkan mencatat kenaikan lebih dari 300% pada periode tersebut, termasuk perusahaan kecerdasan buatan Deepexi. Namun setelah resmi masuk Stock Connect, seluruh saham dalam kelompok itu terkoreksi sedikitnya 10%. Saham Deepexi tercatat anjlok 51% hingga 3 Juni.
Pergerakan harga yang ekstrem mulai menarik perhatian regulator dan media pemerintah China. Securities Times pada akhir Mei menyoroti kekhawatiran terhadap lonjakan harga yang tajam sebelum akhirnya berbalik turun setelah saham masuk dalam skema Stock Connect.
Manajer Portofolio Gavekal, Leonid Mironov, menilai fenomena tersebut berkaitan dengan keberadaan saham ganda di pasar Hong Kong dan China daratan. Menurutnya, sebagian modal kembali mengalir ke saham A yang umumnya diperdagangkan dengan valuasi lebih murah setelah saham H masuk dalam program Connect.
Sementara itu, Strategis Investasi China Asset Management Co., Ding Wenjie, mengatakan sejumlah dana investasi di Hong Kong memanfaatkan momentum masuknya saham ke Stock Connect untuk meraih keuntungan tambahan dalam jangka pendek.
Meski menghadapi tantangan tersebut, prospek penggalangan dana tetap kuat. Goldman Sachs memperkirakan perusahaan-perusahaan akan menghimpun sekitar US$60 miliar melalui IPO di Hong Kong sepanjang tahun ini, hampir dua kali lipat dibandingkan US$36 miliar pada 2025.
Namun, Goldman Sachs baru-baru ini menurunkan rekomendasi saham H Hong Kong dan lebih memilih saham A China daratan untuk memperoleh eksposur yang lebih besar terhadap sektor perangkat keras kecerdasan buatan.
"Tidak diragukan lagi, telah terjadi tekanan pada sebagian sektor keuangan China," kata Direktur Pelaksana China Market Research Group, Benjamin Cavender.
"Hal ini mungkin telah mengalihkan fokus pada kinerja jangka pendek," lanjutnya.
Bursa Hong Kong (HKEX) menyatakan kinerja harga saham dipengaruhi berbagai faktor dan tidak semata-mata ditentukan oleh proses pencatatan saham.
Ujian berikutnya bagi pasar akan datang dari perusahaan kecerdasan buatan. Knowledge Atlas Technology, pengembang model AI Zhipu, dijadwalkan mulai diperdagangkan melalui skema Stock Connect pekan ini.
Sementara perusahaan AI lainnya, MiniMax, diperkirakan menyusul pada musim panas tahun ini setelah keduanya melantai di Hong Kong pada Januari lalu.(DH)