Cadangan devisa RI menipis pada Mei, terendah hampir 2 tahun
Senin, 08 Juni 2026
JAKARTA – Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tersisa US$144,9 miliar, turun sekitar 0,89% dibandingkan posisi akhir April 2026 yang mencapai US$146,2 miliar.
Penurunan tersebut membuat cadangan devisa Indonesia berada di level terendah sejak Juli 2024 atau hampir dua tahun terakhir. Berdasarkan data historis Bank Indonesia (BI), posisi cadangan devisa pada Juli 2024 berada di kisaran US$145 miliar.
Penurunan pada Mei juga memperpanjang tren menyusutnya cadangan devisa Indonesia, yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut atau sejak mencapai puncaknya US$156 miliar pada Desember 2025.
BI menjelaskan perkembangan cadangan devisa pada Mei dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah hingga penerimaan pajak dan jasa. Pada saat yang sama, pemerintah Indonesia melakukan pembayaran utang luar negeri dan menjalankan stabilisasi nilai tukar rupiah.
Meski demikian, BI menilai posisi cadangan devisa tetap kuat. Cadangan devisa pada akhir Mei dinilai setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ungkap Direktur Eksekutif BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resminya pada Senin (8/6).
Ke depan, kata Ramdan, BI yakin ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga didukung posisi cadangan devisa yang memadai.
Selain itu, BI juga melihat aliran masuk modal asing akan berlanjut seiring persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional, seta imbal hasil instrumen keuangan dalam negeri yang masih menarik.
Selanjutnya, BI akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah demi menjaga ketahanan eksternal dan stabilitas ekonomi, dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global. (KR)