Minyak fosil tak stabil, krisis Hormuz ubah pandangan energi global

Senin, 08 Juni 2026

image

JAKARTA - Selama bertahun-tahun, kritik utama terhadap energi terbarukan dirangkum dalam satu kata: intermitensi. Angin tidak selalu bertiup. Matahari terbenam.

Seperti dikutip TheStreet, bahan bakar fosil, menurut argumen tersebut, dianggap lebih andal dibanding sumber energi yang bergantung pada cuaca. 

Argumen ini membentuk perdebatan kebijakan energi di kedua sisi Atlantik selama beberapa dekade.

Tiga bulan sejak perang Iran, argumen itu mulai dibalik.

Di sela-sela Eurelectric Power Summit di Helsinki, Finlandia, para CEO dari dua perusahaan energi terbesar Eropa mengatakan kepada CNBC bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan telah mengungkap sesuatu yang selama ini enggan diakui industri energi: bahan bakar fosil juga memiliki masalah intermitensi, dan itu disebut geopolitik.

Markus Rauramo, CEO perusahaan energi Finlandia Fortum dan Presiden Eurelectric, mengatakan secara tegas ketika diminta membandingkan hal tersebut.

“Ini jenis intermitensi yang berbeda, tetapi benar,” ujarnya kepada CNBC.

“Jadi, pesan kami adalah: solusi untuk ketergantungan pada bahan bakar impor berbasis emisi CO₂ adalah memiliki listrik bersih yang diproduksi di dalam negeri. Itulah jalan ke depan, tetapi kami juga sangat realistis,” tambahnya.

Birgitte Ringstad Vartdal, CEO perusahaan energi Norwegia Statkraft, menyampaikan pandangan serupa, menyoroti kemajuan teknologi baterai yang secara signifikan meningkatkan keandalan energi terbarukan.

Pesan dari kedua eksekutif tersebut sama: krisis Hormuz bukan alasan untuk panik, tetapi alasan untuk mempercepat transisi energi.

Selat Hormuz membawa sekitar 20% pasokan minyak global dan gas alam cair (LNG) dalam kondisi normal. Ketika jalur ini terganggu, pasokan tidak bisa dengan mudah dialihkan.

Rute alternatif lebih panjang, lebih mahal, dan memiliki keterbatasan kapasitas. 

Harga naik, pasar mengetat, dan konsumen merasakan dampaknya melalui biaya energi dan transportasi.

Ini adalah bentuk “intermitensi” pada bahan bakar fosil. Strategis energi Kingsmill Bond dari lembaga Ember mengatakan kepada CNBC di Helsinki bahwa:

“Fosil kini justru menjadi tidak stabil dan tidak pasti, yang ironisnya adalah argumen yang dulu digunakan untuk menyerang energi terbarukan.”

Ia menambahkan bahwa dengan bantuan baterai, energi terbarukan kini menjadi jauh lebih stabil karena matahari terbit setiap hari.

Argumen ini bukan berarti energi terbarukan sempurna. 

Rauramo mengakui bahwa transisi dari gas masih menjadi tantangan besar bagi rumah tangga dan industri.

Namun, perbandingan telah berubah. Rantai pasokan bahan bakar fosil dapat terganggu oleh satu peristiwa geopolitik, sementara panel surya di atap rumah tidak.

Amerika Serikat adalah produsen minyak dan gas terbesar dunia, sehingga melindungi konsumen domestik dari sebagian risiko langsung. 

Namun pasar minyak global tetap terhubung, sehingga gangguan di Teluk tetap menaikkan harga bahan bakar di AS.

Dimensi LNG juga penting. Sejak Eropa mengurangi ketergantungan pada gas Rusia sejak 2022, mereka semakin bergantung pada ekspor LNG dari AS.

Artinya, produksi LNG Amerika kini terhubung erat dengan keamanan energi Eropa. Gangguan di satu sisi dapat memengaruhi harga dan ekspor di sisi lain.

Kesimpulan utama para eksekutif Nordik adalah bahwa keamanan energi bukan hanya soal produksi lebih banyak, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada titik-titik sempit yang rentan terhadap konflik, politik, atau kecelakaan.

Negara yang memproduksi listrik domestik lebih banyak dari angin, surya, dan nuklir akan secara struktural lebih tahan terhadap risiko dibanding negara yang bergantung pada impor bahan bakar melalui satu selat sempit selebar 39 kilometer. (DK)