Harga lithium melonjak 86%, tambang CATL jadi penentu
Senin, 08 Juni 2026
JAKARTA - Pasar lithium menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah terpuruk selama tiga tahun akibat kelebihan pasokan dan melemahnya harga baterai kendaraan listrik.
Seperti dikutip Reuters, kontrak lithium hidroksida di CME melonjak 86% sejak awal tahun dan kembali diperdagangkan di atas US$20.000 per ton metrik untuk pertama kalinya sejak akhir 2023. Kenaikan tersebut menandai berakhirnya periode harga rendah yang membayangi pasar sepanjang 2024 dan 2025.
Pemulihan harga dipicu oleh penghentian operasi tambang Jianxiawo milik raksasa baterai China, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL), di Provinsi Jiangxi pada Agustus lalu setelah izin tambangnya berakhir.
Kabar tersebut memicu aksi beli spekulatif di Guangzhou Futures Exchange dan mendorong lonjakan aktivitas perdagangan kontrak lithium.
Pada puncak euforia pasar pada November, volume perdagangan mencapai 27 juta kontrak berjangka dan 12,5 juta kontrak opsi, masing-masing mewakili satu ton lithium karbonat.
Meski volume perdagangan berangsur turun tahun ini, harga lithium tetap bertahan di level tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peran tambang Jianxiawo dalam rantai pasok lithium China.
Menurut Benchmark Mineral Intelligence (BMI), tambang Jianxiawo memiliki kapasitas produksi tahunan sekitar 150.000 ton setara lithium karbonat, menjadikannya salah satu aset lithium terbesar di dunia.
CATL sebelumnya memperkirakan perpanjangan izin tambang dapat diperoleh dalam waktu tiga bulan. Namun hingga kini izin tersebut belum diterbitkan.
Penutupan tambang itu mempercepat penurunan persediaan lithium di sepanjang rantai pengolahan China dan membuat pasar lebih sensitif terhadap gangguan pasokan.
Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh kebijakan larangan ekspor bahan baku dari Zimbabwe pada awal tahun yang kemudian diganti dengan sistem kuota.
Selain itu, penghentian operasi Jianxiawo memunculkan kekhawatiran terhadap sejumlah tambang lain di kawasan Yichun, pusat produksi lithium China, di tengah pengawasan regulator yang semakin ketat terhadap sektor pertambangan.
Meski demikian, pelaku pasar memperkirakan tambang Jianxiawo akan kembali beroperasi dalam beberapa bulan mendatang mengingat perannya yang strategis bagi pasokan domestik China.
BMI menilai waktu kembalinya operasi tambang tersebut akan menjadi faktor penentu utama arah harga lithium dalam dua tahun ke depan.
"Waktu dimulainya kembali aktivitas merupakan faktor penentu terbesar dalam prospek harga selama 24 bulan ke depan."
Sejumlah analis memperingatkan reli harga saat ini berpotensi tidak bertahan lama. BMI memperkirakan harga lithium akan mengalami penurunan signifikan pada paruh kedua tahun ini karena kenaikan harga mendorong produsen mengaktifkan kembali kapasitas yang sebelumnya dihentikan.
Pandangan serupa disampaikan BNP Paribas yang menilai harga lithium saat ini telah bergerak di atas fundamental pasar akibat tingginya aktivitas spekulatif di pasar berjangka dan rantai pasok.
Bank tersebut memperkirakan pasar lithium masih akan mengalami surplus pasokan pada tahun ini maupun tahun depan, meski permintaan baterai untuk penyimpanan energi terus meningkat.
Sementara itu, Citi masih melihat peluang kenaikan harga dalam jangka pendek dengan target lithium hidroksida CME mencapai US$32.000 per ton. Namun bank tersebut juga memperkirakan harga kembali melemah pada tahun depan karena respons pasokan yang lebih kuat.
Konsensus pasar saat ini mengarah pada pemulihan harga yang lebih moderat dibandingkan siklus boom sebelumnya. Arah pasar lithium dalam beberapa tahun mendatang dinilai akan sangat bergantung pada keputusan regulator di Jiangxi terkait perpanjangan izin tambang CATL.(DH)