Iran pegang kartu Hormuz, Trump kehilangan keunggulan kekuatan?

Senin, 08 Juni 2026

image

WASHINGTON - Upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membuka kembali Selat Hormuz dan membatasi ambisi nuklir Iran sekilas terlihat seperti proses negosiasi biasa antara Washington dan Teheran.

Namun, menurut sejumlah pengamat, kedua pihak sebenarnya mungkin sedang menjalani dua jenis negosiasi yang sama sekali berbeda.Washington cenderung memandang negosiasi dengan Iran melalui lensa kekuatan (power), sementara Teheran melihatnya melalui lensa penguasaan aset atau kepemilikan (possession).

Dikutip dari CNN, Amerika Serikat berupaya memaksa Iran memenuhi tuntutannya melalui tekanan ekonomi dan sanksi.

Sebaliknya, Iran berusaha memaksa Washington berkompromi setelah memperoleh sesuatu yang bernilai dan menolak melepaskannya.Dinamika tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab utama kebuntuan yang masih membayangi perundingan kedua negara.

Pelajaran dari Negosiasi Sandera

Dalam satu dekade terakhir, sejumlah diplomat Amerika Serikat pernah terlibat dalam negosiasi panjang dengan Iran untuk membebaskan warga negara AS yang ditahan di Penjara Evin, Teheran.

Dalam negosiasi penyanderaan, keunggulan kekuatan sering kali kehilangan pengaruhnya. Iran memahami hal tersebut dan sejak Revolusi Islam 1979 berulang kali menggunakan sandera sebagai alat tawar terhadap Amerika Serikat.

Meski mewakili negara paling kuat di dunia, para diplomat AS menghadapi kenyataan bahwa pihak Iran menguasai sesuatu yang sangat diinginkan Washington, yakni para tahanan tersebut.

Dalam situasi tersebut, kekuatan menjadi kurang relevan dibandingkan kepemilikan atas aset yang diinginkan pihak lain.

Selain operasi penyelamatan militer, pilihan yang tersedia bagi Washington pada akhirnya terbatas pada kesediaan membayar harga yang disepakati untuk memperoleh pembebasan sandera.

Waktu juga cenderung menguntungkan Iran. Teheran tidak menghadapi tekanan yang sama besar dan dapat menunggu hingga tekanan politik terhadap pemerintah Amerika Serikat meningkat.

Pada September 2023, Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan pembebasan lima warga negara AS yang ditahan di Penjara Evin.

Kesepakatan tersebut tercapai setelah Washington menyetujui pembebasan sejumlah warga Iran yang dipenjara di Amerika Serikat serta memfasilitasi pemindahan dana Iran senilai US$6 miliar dari Korea Selatan ke Qatar.

Dana tersebut ditempatkan dalam rekening terbatas yang hanya dapat digunakan untuk transaksi kemanusiaan yang tidak melanggar sanksi internasional. Namun, beberapa pekan setelah kesepakatan itu, kelompok Hamas melancarkan serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

Pemimpin tertinggi Iran saat itu secara terbuka juga memuji serangan tersebut. Sebagai respons, Amerika Serikat kembali membatasi akses Iran terhadap dana yang berada di Qatar.

Selat Hormuz Menjadi "Sandera" Baru

Saat ini, Iran dinilai menerapkan logika serupa dalam skala yang jauh lebih besar.

Jika sebelumnya aset yang dikuasai adalah warga negara Amerika Serikat, kini yang menjadi alat tawar adalah salah satu jalur energi terpenting di dunia, yaitu Selat Hormuz.Diperkirakan, Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati selat tersebut.

Melalui ancaman militer, penggunaan rudal dan drone, serta pembentukan otoritas baru yang mengatur lalu lintas kapal, Iran dinilai berhasil memperkuat kendalinya atas akses keluar-masuk Selat Hormuz.

Dari sudut pandang Teheran, kondisi tersebut menciptakan posisi tawar yang sangat berharga. Iran diyakini tidak akan melepaskan kendali tersebut tanpa memperoleh konsesi yang dianggap sepadan dari Amerika Serikat.

Pemerintahan Trump berupaya membalik posisi tawar Iran melalui tekanan ekonomi, termasuk dengan menghambat ekspor minyak Iran.

Strategi tersebut bertujuan menciptakan biaya ekonomi yang lebih besar dibandingkan manfaat yang mungkin diperoleh Iran dari kebuntuan yang berkepanjangan.

Tekanan ekonomi memang diperkirakan semakin membebani perekonomian Iran dalam beberapa bulan ke depan.

Sejumlah indikator menunjukkan Iran menghadapi risiko perlambatan ekonomi yang serius, termasuk lonjakan inflasi dan berkurangnya pendapatan negara.

Namun, sebagian pengamat menilai tekanan tersebut belum tentu cukup untuk mengubah sikap para pemimpin garis keras Iran yang saat ini memegang kendali pemerintahan dan institusi keamanan.

Pada Minggu lalu, Iran bahkan meluncurkan serangan rudal terhadap Israel untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata pada awal April 2026, menandai peningkatan ketegangan setelah beberapa pekan negosiasi berlangsung.

Teheran diyakini meyakini bahwa Washington akan lebih sulit menahan tekanan ekonomi global akibat gangguan Selat Hormuz dibandingkan kemampuan Iran bertahan menghadapi tekanan Amerika Serikat.

Tiga Pilihan bagi Washington

Dalam situasi saat ini, sejumlah analis menilai Amerika Serikat hanya memiliki tiga opsi utama.

Pertama, bertahan dan menunggu hingga tekanan ekonomi terhadap Iran mencapai titik yang memaksa Teheran berkompromi.

Kedua, memberikan konsesi berupa pelonggaran tekanan atau insentif ekonomi untuk memulihkan kondisi sebelum konflik, meski langkah tersebut berisiko dianggap sebagai kemunduran politik bagi Washington.

Ketiga, meningkatkan tekanan militer guna mengamankan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, dengan risiko konflik meluas ke kawasan lain.

Sementara itu, bagi Iran, perhitungannya dinilai jauh lebih sederhana: mempertahankan aset strategis yang dimiliki dan menunggu lawan menawarkan harga yang lebih tinggi.

Berdasarkan analisis tersebut, selama keseimbangan posisi tawar belum berubah secara signifikan, Iran tidak memiliki insentif untuk melepaskan kendalinya dengan mudah.

Akibatnya, perundingan antara kedua negara diperkirakan akan tetap berada dalam kondisi buntu seperti saat ini. (ARF)