Rupiah sentuh rekor terendah baru, pasar tunggu langkah pemerintah
Senin, 08 Juni 2026
JAKARTA - Rupiah kembali melemah ke level terendah baru pada 8 Juni 2026 setelah tekanan jual yang terjadi pekan lalu. Pelemahan tersebut sejalan dengan pergerakan sebagian besar mata uang regional, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat merosot hingga 4,3%.
Pada pukul 15.45 waktu Singapura, rupiah melemah 0,8% ke level Rp18.184,50 per dolar Amerika Serikat. Terhadap dolar Singapura, rupiah juga turun 0,4% menjadi Rp14.104,34.
Dikutip dari TheStraitsTimes, Mitra SGMC Capital yang berbasis di Singapura, Mohit Mirpuri, mengatakan dua pekan ke depan akan menjadi periode yang sangat krusial bagi Indonesia.
"Pasar mencari sinyal yang jelas mengenai disiplin fiskal, konsistensi kebijakan, dan komitmen yang kuat terhadap stabilitas makroekonomi," ujarnya.
Meningkatnya kekhawatiran terhadap pengelolaan ekonomi pemerintah, ketidakjelasan terkait aturan ekspor komoditas yang baru, serta kembali mencuatnya kekhawatiran mengenai profil kredit Indonesia telah menekan aset-aset domestik.
Hanya lima bulan setelah mencetak rekor tertinggi, IHSG telah merosot hampir 39% dan menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk pada 2026 di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau Bloomberg.
Di pasar valuta asing, rupiah telah melemah sekitar 8% sepanjang 2026 sehingga menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini.
Rupiah juga telah beberapa kali mencetak rekor terendah baru dan pada pekan lalu menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Para analis menilai pemerintah dan otoritas terkait perlu memberikan panduan kebijakan yang lebih tegas serta mengumumkan langkah-langkah konkret untuk memperbaiki sentimen pasar.
Menurut mereka, investor tidak akan mudah diyakinkan hanya melalui pernyataan atau komitmen semata.
Pelaku pasar diperkirakan akan mengambil sikap wait and see menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pada 18 Juni 2026 serta evaluasi tingkat kelayakan investasi (investability review) Indonesia oleh MSCI yang dijadwalkan berlangsung pada akhir bulan ini.
Sementara itu, Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia pada akhir pekan lalu telah meluncurkan sejumlah langkah tambahan untuk mendukung pasar obligasi serta menarik kembali arus modal masuk ke Indonesia. (ARF)