Israel hantam fasilitas petrokimia Iran, minyak melonjak 5%

Senin, 08 Juni 2026

image

JAKARTA - Harga minyak dunia melonjak hampir 5% pada perdagangan Senin setelah Israel melancarkan serangan terhadap fasilitas petrokimia di Iran barat daya dan sejumlah target militer lainnya. Eskalasi terbaru tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.

Seperti dikutip Investing, Kontrak Brent untuk pengiriman Agustus naik 4,7% menjadi US$97,44 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 4,5% ke level US$94,62 per barel.

Kenaikan harga terjadi setelah Israel mengumumkan serangan terhadap sejumlah lokasi militer di Iran bagian barat dan tengah, termasuk fasilitas petrokimia di dekat Mahshahr. Serangan itu menjadi salah satu aksi paling signifikan terhadap infrastruktur yang terkait sektor energi Iran sejak gencatan senjata dicapai pada April lalu.

Aksi militer tersebut dilakukan setelah Iran meluncurkan beberapa gelombang serangan rudal ke wilayah Israel sebagai balasan atas serangan Israel di kawasan pinggiran Beirut.

Laporan media internasional menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak melakukan serangan balasan terhadap Iran setelah serangan rudal terbaru Teheran.

Namun perkembangan di lapangan kembali meningkatkan ketegangan kawasan dan memunculkan keraguan terhadap keberlangsungan perpanjangan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Lebanon.

Pasar energi juga kembali mencermati risiko gangguan distribusi minyak melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengalirkan sekitar 20% konsumsi minyak dunia.

Sebelumnya, harga minyak sempat terkoreksi tajam pada akhir pekan lalu seiring munculnya harapan meredanya konflik di Timur Tengah. Brent ditutup di kisaran US$93 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$90 per barel pada Jumat. Namun sentimen tersebut berbalik setelah rangkaian serangan terbaru antara Israel dan Iran.

Di sisi pasokan, OPEC+ telah menyepakati kenaikan kuota produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari untuk Juli sebagai bagian dari pelonggaran bertahap kebijakan pemangkasan produksi sukarela.

Meski demikian, hambatan ekspor dari kawasan Teluk Persia membuat sebagian besar produsen belum dapat merealisasikan tambahan produksi tersebut secara optimal.(DH)