Moody's: Malaysia dan Thailand lebih tahan terhadap dolar AS
Senin, 08 Juni 2026
KUALA LUMPUR - Sektor korporasi Malaysia dinilai berada dalam posisi yang relatif lebih baik untuk menghadapi dampak penguatan dolar Amerika Serikat dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan.
Dikutip dari New Straits Times, Moody's Ratings menyatakan nilai tukar ringgit justru menguat terhadap dolar AS berkat kuatnya ekspor komoditas serta arus masuk investasi yang terkait dengan sektor manufaktur.
Dalam laporan yang dirilis pada Senin (8/6), Moody's memperkirakan kualitas kredit korporasi di Asia Selatan dan Asia Tenggara secara umum akan tetap stabil dalam 12 hingga 18 bulan ke depan meskipun menghadapi volatilitas mata uang yang lebih tinggi, ketegangan geopolitik, dan tekanan ekonomi eksternal.
Lembaga pemeringkat tersebut juga mencatat depresiasi mata uang semakin meningkat di banyak negara kawasan sepanjang 2025 dan 2026.
Kondisi tersebut dipicu oleh konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, kebijakan tarif Amerika Serikat, serta arus keluar modal asing.
Moody's menyebut rupiah Indonesia, rupee India, dan peso Filipina telah melemah sekitar 10% hingga 12% terhadap dolar AS dalam satu tahun terakhir.
Bahkan, rupiah dan rupee tercatat sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah terhadap mata uang Amerika Serikat tersebut.
Sebaliknya, ringgit Malaysia dan baht Thailand justru menguat berkat dukungan kinerja perdagangan dan arus investasi yang lebih baik.
Risiko Kredit Tetap Terkendali
Moody's menilai sebagian besar perusahaan yang masuk dalam cakupan pemeringkatannya di kawasan masih memiliki ketahanan yang memadai meskipun dolar AS menguat.
Dari 41 penerbit surat utang yang diperingkat di Indonesia, India, dan Filipina, dari tiga negara dengan pelemahan mata uang paling tajam, hanya tujuh perusahaan atau sekitar 17% yang memiliki eksposur signifikan terhadap ketidaksesuaian mata uang (currency mismatch) yang berpotensi memengaruhi profil kredit mereka.
Sementara itu, sekitar 83% perusahaan lainnya memiliki eksposur valuta asing yang terbatas atau memiliki bantalan keuangan yang cukup untuk menyerap dampak pelemahan mata uang yang lebih lanjut.
Berdasarkan kondisi tersebut, Moody's tidak memperkirakan akan terjadi penurunan signifikan terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas maupun kualitas kredit korporasi secara keseluruhan dalam jangka menengah.
Menurut Moody's, meskipun volatilitas nilai tukar masih menjadi risiko yang perlu dicermati, sebagian besar perusahaan di kawasan tetap berada dalam posisi yang cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal yang sedang berlangsung. (ARF)