Permintaan jet pribadi naik di tengah gejolak pasar
Senin, 08 Juni 2026
LONDON/PARIS/GDANSK - Lonjakan harga bahan bakar pesawat akibat perang Iran terus mengguncang industri penerbangan global. Namun, kondisi tersebut tampaknya tidak mengurangi minat kalangan berpendapatan tinggi dunia untuk bepergian menggunakan jet pribadi.
Dikutip dari Reuters, para CEO, selebritas, hingga atlet profesional justru semakin banyak menggunakan jet pribadi untuk menghadiri berbagai acara bergengsi seperti Monaco Grand Prix dan Festival Film Cannes.
Fenomena ini menjadi salah satu gambaran dari apa yang disebut sebagai ekonomi berbentuk "K" (K-shaped economy), yakni ketika kelompok berpendapatan tinggi terus meningkatkan pengeluaran, sementara kelompok menengah dan bawah mulai menahan konsumsi di tengah tekanan ekonomi.
Kondisi tersebut terlihat di berbagai sektor, mulai dari barang mewah hingga industri kuliner. Sementara itu, maskapai berbiaya rendah (low-cost carrier/LCC) menjadi salah satu pihak yang paling terdampak.
Sejak perang Iran pecah pada akhir Februari 2026, biaya bahan bakar pesawat dilaporkan meningkat hampir dua kali lipat.
Kenaikan tersebut memaksa banyak maskapai membatalkan penerbangan dan menaikkan harga tiket. Serangan rudal dan drone di kawasan Teluk juga menyebabkan jumlah penerbangan di wilayah yang selama ini menjadi salah satu pusat konektivitas global itu turun hampir 50%.
Pemilik perusahaan penyewaan jet pribadi Platoon Aviation, Deniz Weissenborn, mengatakan bahwa pelanggan mereka tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan biaya perjalanan.
"Dunia sedang dilanda gejolak, tetapi tidak dengan para penumpang kami," ujarnya.
Menurutnya, pelanggan jet pribadi umumnya memiliki kemampuan finansial yang cukup besar untuk menyerap kenaikan biaya operasional.
"Jika Anda terbang menggunakan jet pribadi, saya rasa kenaikan biaya sebesar 1.000 hingga 2.000 euro bukan sesuatu yang terlalu dipikirkan," katanya.
Data perusahaan analisis penerbangan WINGX menunjukkan jumlah penerbangan jet pribadi secara global meningkat sekitar 4% sepanjang tahun ini.
Pada periode yang sama, kapasitas penerbangan global justru turun sekitar 3%-4%, berdasarkan data perusahaan analisis penerbangan Cirium. (ARF)