Harga batu bara Asia naik ke level tertinggi sejak 2024
Selasa, 09 Juni 2026
SINGAPURA - Harga batu bara acuan Asia melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua tahun setelah aturan ekspor baru Indonesia menyebabkan keterlambatan pengiriman dan memperketat pasokan di tengah meningkatnya permintaan menjelang musim panas.
Dikutip dari The Star, kontrak berjangka batu bara Newcastle Australia untuk pengiriman Juni naik 1,5% menjadi US$151 per ton pada Senin (8/6). Angka tersebut menjadi level intraday tertinggi untuk kontrak bulan terdekat sejak Mei 2024.
Indonesia pada bulan lalu mengumumkan pengambilalihan kendali ekspor sejumlah komoditas strategis, termasuk batu bara. Sistem baru yang mulai diterapkan pada Juni disebut menimbulkan kebingungan di kalangan pelaku usaha dan menyebabkan keterlambatan pengiriman dari Indonesia yang merupakan eksportir batu bara terbesar di dunia.
Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa pasokan dari Australia akan membantu mengisi kekurangan pasokan di pasar.
Di sisi lain, permintaan batu bara diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan mendatang seiring cuaca yang lebih panas di Asia Timur Laut. Kenaikan suhu diperkirakan akan mendorong penggunaan pendingin udara, terutama di negara konsumen utama seperti Tiongkok.
Sementara itu, sejumlah negara seperti Jepang juga meningkatkan penggunaan batu bara untuk mengurangi ketergantungan pada gas alam cair (liquefied natural gas/LNG).
Langkah tersebut dilakukan setelah penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas ekspor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) terbesar di Qatar mengganggu sekitar 20% aliran pasokan global.
Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, tingkat operasional pembangkit listrik tenaga batu bara di Jepang, yang merupakan salah satu pembeli utama batu bara Australia, tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Kurva harga kontrak Newcastle juga telah berbalik ke struktur backwardation, yaitu kondisi ketika harga jangka pendek lebih tinggi dibandingkan harga untuk pengiriman di masa depan.
Struktur tersebut umumnya mencerminkan pasar yang sedang mengalami keterbatasan pasokan.
Perusahaan riset energi Rystad Energy memperkirakan konsumsi batu bara di Asia akan meningkat hampir 70 juta ton pada 2026 apabila pasar gas alam tetap berada dalam kondisi ketat.
Menurut Rystad, peningkatan tersebut akan didorong oleh tingginya tingkat pemanfaatan pembangkit listrik tenaga batu bara di berbagai negara Asia. (ARF)