China tunda proyek kilang berkapasitas 500 ribu barel
Selasa, 09 Juni 2026
TIONGKOK — Gangguan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz telah memaksa para penyuling (refiner) China untuk menunda atau menangguhkan tanpa batas waktu kapasitas pengolahan sebesar 500.000 barel per hari.
Seperti dikutip Oilprice, kondisi ini menciptakan salah satu dampak hilir terbesar pertama dari perang Iran di luar kawasan Teluk, menurut laporan Reuters pada Senin.
Penundaan ini berdampak pada kilang berkapasitas 300.000 bpd yang sedang dikembangkan oleh Huajin Aramco Petrochemical Co. di China timur laut serta rencana restart 200.000 bpd di kilang Dalian milik PetroChina.
Kedua proyek tersebut sebelumnya diperkirakan akan berkontribusi pada pertumbuhan kapasitas penyulingan China tahun ini, tetapi kini tertunda akibat ketidakpastian pasokan minyak mentah dan memburuknya ekonomi penyulingan.
Menurut Reuters, mulai beroperasinya kilang Huajin telah tertunda beberapa bulan, dengan konsultan Energy Aspects kini memperkirakan fasilitas tersebut baru akan mulai beroperasi pada kuartal ketiga, bukan kuartal kedua.
Proyek ini merupakan salah satu investasi penyulingan terbesar yang sedang dikembangkan di China dan didukung oleh Saudi Aramco, yang diperkirakan akan memasok hingga 210.000 barel per hari bahan baku minyak dalam kesepakatan jangka panjang.
Sementara itu, PetroChina telah menunda tanpa batas waktu rencana untuk menghidupkan kembali unit pengolahan minyak 200.000 bpd di kilang Dalian, menurut Reuters, meskipun PetroChina belum mengonfirmasi penundaan tersebut.
Fasilitas itu sebelumnya dihentikan sebagai bagian dari restrukturisasi besar, dengan sebagian area sempat direncanakan kembali beroperasi tahun ini.
Impor minyak mentah China turun menjadi 6,36 juta barel per hari pada Mei dari 11,39 juta bpd pada Februari, menurut data Kpler yang dikutip Reuters, turun lebih dari 44%.
Namun, aktivitas kilang tetap mendekati 13,5 juta bpd, sehingga para penyuling memproses minyak lebih dari dua kali lipat dibandingkan impor yang masuk.
Kesenjangan tersebut sebagian besar ditutupi oleh persediaan (stok) yang telah dikumpulkan sebelum konflik.
Selama lebih dari setahun, pembeli China membeli minyak diskon dari Rusia dan Iran sambil membangun cadangan strategis dan komersial.
Para analis memperkirakan stok tersebut mencapai sekitar 1 miliar barel sebelum perang. China juga terus memperluas kapasitas penyimpanan minyak mentah dan masih menambah fasilitas baru sebelum konflik pecah. (DK)