Impor LNG China naik tertinggi, pasokan Qatar terganggu

Selasa, 09 Juni 2026

image

BEIJING - Perusahaan energi milik negara China sedang membeli dan mengimpor volume gas alam cair (LNG) tertinggi sejak perang di Iran dimulai.

Seperti dikutip Oilprice, hal itu dilakukan karena negara pengimpor LNG terbesar di dunia itu bersiap menghadapi puncak permintaan musim panas dan gelombang panas.

Pembeli swasta juga meningkatkan pembelian, sementara China berupaya menggantikan hilangnya pasokan gas dari Qatar.

Para pedagang mengatakan kepada Bloomberg pada hari Senin bahwa importir LNG China kini mengambil sekitar 7 hingga 10 kargo per bulan untuk menggantikan pengiriman dari Qatar.

Sebagian LNG Qatar yang sudah dimuat sebelum perang dimulai masih terjebak di belakang Selat Hormuz, sementara negara Teluk tersebut menghentikan operasi pencairan gas di fasilitasnya beberapa hari setelah perang dimulai.

Selain itu, kompleks Ras Laffan, fasilitas LNG terbesar di dunia, mengalami kerusakan akibat serangan rudal Iran pada pertengahan Maret, sehingga QatarEnergy menyatakan force majeure atas pengiriman dan memperkirakan perbaikan fasilitas bisa memakan waktu hingga lima tahun.

Di tengah krisis pasokan LNG dari Timur Tengah dan mendekatnya musim panas di Asia utara, rata-rata pergerakan 30 hari impor China melonjak menjadi 178.000 ton per hari, tertinggi sejak awal Februari, menurut estimasi Bloomberg. 

Pembeli China mulai meningkatkan pembelian pada pertengahan April dan mempertahankan tingkat impor yang tinggi sejak saat itu.

Volume impor tersebut kini mendekati rata-rata lima tahun untuk periode yang sama, menurut perhitungan Bloomberg.

Hal ini menunjukkan bahwa pasar gas di Asia dan Eropa akan semakin ketat memasuki musim panas karena meningkatnya permintaan untuk pendinginan dan listrik.

Harga LNG di Asia dan harga gas acuan di Eropa telah naik sejak perang Iran dimulai, karena hilangnya pasokan Qatar membuat persaingan untuk kargo alternatif semakin ketat. 

Asia kini lebih berhasil menarik pasokan LNG, sementara Eropa kesulitan mengisi kembali penyimpanan gasnya yang mengakhiri musim dingin dengan stok di level terendah dalam beberapa tahun terakhir. (DK)