AI ubah permainan private equity dan venture capital, mengapa?
Selasa, 09 Juni 2026
WASHINGTON – Model AI serbaguna seperti Claude atau ChatGPT kini mampu mengungguli sistem internal perusahaan dalam berbagai pengujian.
Namun, seperti dikutip NBC, tidak semua pihak melihat keunggulan AI hanya dari sisi teknologi. Salah satunya adalah Long Lake, perusahaan modal ventura (venture capital/VC) yang mengembangkan strategi investasi berbasis AI.
Bagi Long Lake, taruhan utamanya bukan hanya pada kecanggihan teknologi AI, melainkan pada kepemilikan perusahaan dan penempatan insinyur secara langsung di dalam bisnis yang diakuisisi selama bertahun-tahun.
Pendekatan ini diyakini dapat membuat transformasi berbasis AI berlangsung lebih mendalam dan berkelanjutan.
Seperti dikutip CNBC, sebagian besar insinyur Long Lake berasal dari Ramp dan Palantir, dua perusahaan yang dikenal menempatkan insinyurnya bekerja langsung bersama pelanggan selama berbulan-bulan.
Private equity tradisional mengambil pendekatan berbeda. Pada awal 2020-an, banyak perusahaan private equity membeli perusahaan perangkat lunak enterprise dengan valuasi tinggi karena meyakini pendapatan SaaS yang berulang merupakan sumber arus kas yang defensif.
Beberapa contohnya adalah akuisisi Citrix oleh Vista, Anaplan dan Coupa oleh Thoma Bravo, serta Qualtrics oleh Silver Lake. Namun tiga tahun kemudian, perusahaan-perusahaan tersebut justru menjadi yang paling rentan terhadap disrupsi AI.
Kemitraan yang baru diumumkan antara Anthropic dengan Blackstone, Hellman & Friedman, dan Goldman Sachs, serta kerja sama serupa antara OpenAI dan TPG, merupakan respons terhadap perubahan tersebut.
Tujuannya adalah membawa model AI mutakhir ke perusahaan-perusahaan dalam portofolio mereka.
Namun pendekatan ini dinilai lebih menyerupai upaya konsultasi untuk menyelesaikan masalah implementasi, yakni menggunakan AI milik pihak lain pada perusahaan milik pihak lain, oleh orang-orang yang tidak memiliki keduanya.
Ada dua risiko utama bagi model yang diusung perusahaan modal ventura.
Pertama, adalah imbal hasil. Perusahaan operasional biasanya menghasilkan keuntungan sekitar 100% hingga 200% dalam jangka panjang, jauh di bawah target kelipatan 10 kali yang sering dijanjikan dana ventura.
Akibatnya, dana pensiun dan endowment yang berinvestasi untuk memperoleh eksposur ventura bisa saja mendapatkan hasil yang lebih mirip private equity.
Kedua, adalah kemampuan operasional. Vista dan Thoma Bravo telah menghabiskan puluhan tahun membangun tim operasional untuk mengelola perusahaan yang mereka akuisisi.
Sebaliknya, perusahaan modal ventura umumnya hanya berinvestasi pada startup dan tidak memiliki pengalaman panjang dalam menjalankan perusahaan yang sudah matang.
Keberhasilan strategi akuisisi berbasis AI bergantung pada kemampuan mengubah operasi perusahaan secara langsung, sesuatu yang selama ini menjadi keahlian private equity, bukan venture capital.
Namun, Pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Long Lake, Alex Taubman, berargumen bahwa perkembangan AI berlangsung sangat cepat. "Sehingga tiga tahun di era AI setara dengan tiga dekade sebelum AI."
Gelombang akuisisi perusahaan secara privat berikutnya diperkirakan sudah dimulai, dan targetnya bukan lagi perusahaan perangkat lunak, melainkan perusahaan-perusahaan nonteknologi yang selama ini berada di balik ekosistem tersebut.
Long Lake merupakan perusahaan investasi dan teknologi yang didirikan pada 2023 oleh Alex Taubman.
Berbasis di Amerika Serikat, perusahaan ini mengembangkan model investasi yang menggabungkan akuisisi bisnis jasa dengan penerapan kecerdasan buatan (AI). Long Lake didukung sejumlah investor besar, antara lain General Catalyst, Alpha Wave, serta investor teknologi seperti Elad Gil dan Thrive Capital.
Sejak berdiri, Long Lake telah mengakuisisi dan bermitra dengan puluhan perusahaan jasa di berbagai sektor menggunakan platform AI miliknya, Nexus. Perusahaan ini menarik perhatian pasar setelah menyepakati akuisisi operator perjalanan bisnis American Express Global Business Travel senilai sekitar US$6,3 miliar pada 2026.
Long Lake menyebut dirinya sebagai pelopor strategi "AI take-private", yakni membeli perusahaan yang sudah mapan lalu meningkatkan pertumbuhan dan efisiensinya melalui transformasi berbasis AI. (DK)