Prabowo minta harga TBS sawit naik 10%, lindungi 15 juta petani
Selasa, 09 Juni 2026
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto dilaporkan telah menginstruksikan kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit sebesar 10%, seiring meningkatnya harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar global.
“Presiden membela 15 juta petani, beliau mengatakan harga TBS harus kembali ke tingkat semula, bahkan naik 10%” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada Senin (8/6/26).
Seperti dikutip Antara, menurutnya, arahan tersebut menegaskan pentingnya melindungi kesejahteraan sekitar 15 juta petani sawit dengan memulihkan harga TBS dan mendorong kenaikan lebih lanjut.
Ia mengatakan penyesuaian harga tersebut wajar dilakukan karena didukung oleh tren kenaikan harga CPO global serta penguatan dolar AS terhadap rupiah.
Sulaiman menyebut sekitar 70% harga TBS di berbagai daerah telah berangsur pulih. Pemerintah bersama Satgas Pangan dan kepolisian akan memastikan normalisasi harga berlangsung sepenuhnya.
Ia menambahkan, penurunan harga TBS di tingkat petani belakangan ini merupakan anomali, karena komoditas tersebut seharusnya mengalami kenaikan sekitar 10% sejalan dengan kondisi pasar global.
Menurutnya, meski harga CPO global telah naik 47% dan dolar AS menguat lebih dari 10% terhadap rupiah, harga TBS di tingkat petani justru turun sekitar 17%.
“Kami memiliki datanya. Harga CPO global naik 47%, dolar menguat lebih dari 10%, tetapi harga TBS justru turun,” katanya.
Ia mendesak perusahaan-perusahaan sawit yang belum menyesuaikan harga TBS agar segera mematuhi ketentuan yang berlaku. Pemerintah bersama Satgas Pangan Polri akan menyelidiki sekitar 270–300 perusahaan yang belum menyesuaikan harga TBS dengan regulasi daerah, meskipun harga CPO global dan nilai tukar menunjukkan tren kenaikan.
Sulaiman menegaskan pemerintah tidak akan mentoleransi praktik yang merugikan petani sawit, mengingat sekitar 15 juta masyarakat Indonesia menggantungkan mata pencaharian mereka pada sektor tersebut.
“Kita harus melindungi petani. Ada 15 juta petani sawit di Indonesia. Jika harga global naik dan nilai tukar menguat, tetapi harga di tingkat petani justru turun, itu tidak masuk akal,” ujarnya. (DK)