Goldman Sachs: Koreksi Wall Street belum sampai sinyal bahaya
Selasa, 09 Juni 2026
WASHINGTON - Investor menghabiskan sebagian besar tahun ini menunggu pasar saham mengalami koreksi besar.
Seperti dikutip TheStreet, karena itu, setiap pelemahan pasar sering kali terasa jauh lebih besar daripada kenyataannya.
Namun dalam wawancara terbaru dengan Bloomberg, John Flood dari Goldman Sachs mengatakan ia belum melihat penurunan pasar terbaru sebagai sinyal bahaya.
Sebagai gambaran, pada Jumat, 5 Juni 2026, Wall Street mengalami tekanan besar. Indeks S&P 500 merosot 2,64%, Nasdaq anjlok 4,18%, dan Dow Jones turun 1,35%.
Aksi jual tersebut menghapus sekitar US$1,8 triliun nilai pasar dari S&P 500, sementara Nasdaq mencatat penurunan harian terbesar dalam sejarahnya.
Penurunan dipicu oleh aksi jual besar-besaran pada saham semikonduktor, laporan ketenagakerjaan AS bulan Mei yang lebih kuat dari perkiraan sehingga memicu kekhawatiran kenaikan suku bunga, serta kekhawatiran terkait belanja kecerdasan buatan (AI).
Meski demikian, Flood menilai bahwa meskipun pasar terlihat mahal, posisi investor secara keseluruhan belum menunjukkan perilaku yang berlebihan atau spekulatif.
Sebagai konteks, S&P 500 telah mencetak 24 rekor penutupan tertinggi sepanjang masa pada 2026, meskipun pasar masih dibayangi berbagai kekhawatiran seperti inflasi, konflik Iran, kredit swasta, dan suku bunga tinggi.
Bagi Flood, kondisi tersebut tidak menunjukkan kerentanan yang serius.
Karena itu, divisi perdagangan saham Goldman Sachs tetap optimistis dan memperkirakan S&P 500 dapat mencapai level 8.000 atau lebih tinggi pada tahun ini.
Pandangan tersebut sejalan dengan tim analis Citibank yang juga menaikkan target akhir tahun 2026 untuk S&P 500 menjadi 8.100.
Rekor Penting S&P 500 pada 2026
Flood menilai koreksi pasar terbaru lebih merupakan peluang beli daripada awal dari penurunan yang lebih dalam.
Menurutnya, pasar saham masih berada dalam kondisi yang “sangat sehat”, terutama karena permintaan terhadap penerbitan saham baru tetap kuat, khususnya dari investor institusional.
Data dari SIFMA menunjukkan penerbitan saham di AS mencapai US$122,4 miliar hingga Mei 2026, naik 34,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, nilai penerbitan saham perdana (IPO) melonjak 172,8% menjadi US$34,2 miliar. (DK)