Tiga proyek panas bumi PGEO potensi raup pendanaan US$477,9 juta
Selasa, 09 Juni 2026
JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) berpeluang memperoleh pendanaan internasional hingga US$477,87 juta setelah tiga proyeknya terkait pembangkit listrik tenaga panas bumi masuk dalam Green Book 2026, yang diterbitkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas.
Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, mengatakan capaian itu membuka peluang perseroan mengakses berbagai sumber pendanaan internasional.
“Pencapaian ini juga meningkatkan visibilitas dan daya tarik proyek-proyek Perseroan di mata calon mitra strategis maupun lembaga pendanaan global,” kata Ahmad.
Berdasarkan daftar yang tercantum dalam Green Book 2026, PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW) berpotensi memperoleh pendanaan US$158,86 juta dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan target beroperasi secara komersial pada 2030.
Sementara PLTP Lumut Balai Unit 4 berkapasitas 55 MW berpeluang memperoleh US$148,97 juta dari JICA dengan target operasi komersial mulai 2032.
Adapun PLTP Lahendong Unit 7-8 berkapasitas 50 MW berpotensi mendapatkan pendanaan US$170,04 juta dari Bank Dunia dengan target operasi komersial pada 2030.
Ketiga proyek itu disebut sebagai bagian dari roadmap PGEO untuk mengembangkan kapasitas panas bumi hingga 3 Gigawatt (GW).
Ahmad menambahkan pendanaan itu diyakini akan menjaga struktur pendanaan proyek PGEO tetap sehat, mempertahankan cost of debt yang kompetitif, serta meningkatkan nilai keekonomian proyek untuk jangka panjang.
“Sejalan dengan pengembangan tersebut, sebagai world leading geothermal producer, PGE terus berfokus pada pertumbuhan jangka panjang melalui tiga strategi utama, yaitu optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru,” jelas Ahmad.
Sebelumnya pada kuartal pertama 2026, PGEO menghasilkan laba bersih US$43,9 juta. Perolehan ini meningkat 40% secara tahunan, ditopang pendapatan yang mencapai US$116,56 juta. (KR)