CEO ExxonMobil Darren Woods paparkan skenario lonjakan harga minyak

Selasa, 09 Juni 2026

image

JAKARTA - ExxonMobil memperingatkan pasar minyak global belum sepenuhnya mencerminkan dampak perang Iran dan penutupan Selat Hormuz.

Perusahaan migas terbesar AS itu menilai harga minyak berpotensi melonjak tajam ketika cadangan yang selama ini menahan gejolak pasokan mulai habis.

Mengutip TheStreet, dalam paparan kinerja kuartal pertama tahun 2026, CEO ExxonMobil, Darren Woods, mengatakan pasar saat ini masih ditopang oleh minyak yang berada dalam perjalanan, pelepasan cadangan strategis, serta penarikan stok komersial.

"Ada banyak minyak yang sedang dalam perjalanan di perairan, banyak persediaan di perairan yang telah dikerahkan pada bulan pertama konflik. Cadangan minyak strategis telah dilepaskan, persediaan komersial telah dikurangi," kata Woods.

Menurut Woods, kenaikan harga minyak hanya tinggal menunggu waktu jika salah satu sumber pasokan tersebut habis sementara Selat Hormuz masih ditutup.

"Begitu salah satu sumber pasokan tersebut habis, harga minyak akan meningkat selama selat tersebut tetap tertutup," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Senior Vice President ExxonMobil, Neil Chapman dalam Bernstein 42nd Annual Strategic Decisions Conference di New York pada 28 Mei 2026. Ia menilai persediaan minyak dunia kini mendekati level terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

"Kita mendekati tingkat persediaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Maksud saya, tingkat yang benar-benar sangat rendah," kata Chapman. "Kita bisa memperdebatkan apakah itu akan mencapai tingkat yang sangat rendah dalam dua minggu atau tiga minggu."

Chapman menambahkan model pasar menunjukkan harga minyak Brent dapat melonjak hingga US$150-US$160 per barel ketika stok global mencapai titik kritis.

"Begitu Anda mencapai titik itu, Anda akan melihat harga meroket. Sebuah model akan mengatakan bahwa harga Brent berjangka akan meroket, hingga US$150, US$160. Model-model tersebut akan memberi tahu Anda hal itu," katanya.

Saat ini, menurut Chapman, harga minyak masih tertahan oleh pengurasan persediaan minyak mentah, bensin, solar, dan bahan bakar jet. Ketika mekanisme tersebut tidak lagi tersedia, pasar akan mengalami lonjakan harga hingga permintaan melemah dan kembali menyeimbangkan pasar.

ExxonMobil juga menyoroti peran minyak dari negara-negara yang terkena sanksi dalam meredam gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz.

"Saya rasa yang kurang disadari orang adalah banyaknya minyak mentah yang disetujui dan berada di perairan. Dengan kata lain, tidak terjual," kata Chapman.

"Minyak mentah Iran, Venezuela, dan Rusia kini telah masuk ke pasar, dan itu telah mengurangi sebagian kehilangan minyak melalui Selat Hormuz."

Penutupan Selat Hormuz telah mengganggu jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Sejak perang Iran pecah pada akhir Februari, lalu lintas tanker di jalur tersebut dilaporkan turun hingga di bawah 10% dari kondisi normal.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan kehilangan pasokan dari kawasan Teluk telah melampaui 1 miliar barel sejak konflik berlangsung. Produksi minyak global pada April 2026 juga turun menjadi 95,1 juta barel per hari, atau berkurang 12,8 juta barel per hari dibandingkan sebelum perang.

Lonjakan harga minyak ke kisaran US$150-US$160 per barel berpotensi meningkatkan inflasi global, mendorong kenaikan biaya transportasi dan logistik, serta menunda rencana pelonggaran suku bunga bank sentral.

Bagi konsumen, kenaikan harga minyak diperkirakan akan segera tercermin pada harga bensin dan solar. Sementara bagi dunia usaha, biaya energi yang lebih tinggi berisiko menekan investasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global sepanjang 2026.

ExxonMobil menilai dampak penutupan Selat Hormuz tidak hanya menjadi persoalan energi, tetapi juga faktor yang berpotensi mengubah arah perekonomian global dalam beberapa bulan mendatang.(DH)